Diduga ada kuburan PRT, polisi bongkar lantai rumah Syamsul
Merdeka.com - Polisi membongkar bagian lantai rumah keluarga Syamsul Anwar, tersangka penganiayaan terhadap pembantu rumah tangga (PRT) di Jalan Beo simpang Jalan Angsa, Medan, Senin (8/10) sore. Tindakan itu dilakukan untuk memastikan informasi mengenai adanya korban tewas lain yang dikuburkan di lokasi itu.
Pembongkaran dilaksanakan petugas Unit Judisila Satreskrim Polresta Medan dan Polsek Medan Timur. Mereka dibantu dua orang tukang yang membawa peralatan seperti sekop dan cangkul.
"Kita mencoba melakukan identifikasi BAP saksi mengenai dugaan ada korban lain di rumah ini. Tim masih bekerja," kata Kapolresta Medan Kombes Nico Afinta Karokaro, Senin (8/12).
Petugas yang melaksanakan pembongkaran mendapat pengawalan ketat personel Satuan Sabhara Polresta Medan. Mereka menahan kerumunan warga yang terus merangsek mendekat untuk menyaksikan proses pembongkaran itu.
Sementara tim Disaster Victim Identification (DVI) Biddokkes Polda Sumut juga terlihat saat pembongkaran lantai rumah Syamsul. Mereka ikut masuk ke dalam rumah bersama pihak berwajib lainnya.
Pembongkaran ini mengundang perhatian masyarakat. Warga memadati sebagian wilayah ke lokasi dan berkumpul di sekitar lokasi itu. Hingga pukul 17.45 WIB, massa masih berada di sana.
Berdasarkan pantauan, setidaknya terdapat 2 titik di lantai rumah Syamsul yang dibongkar petugas. Selain di bagian bawah tangga, mereka juga membongkar bagian samping rumah.
Tindakan polisi membongkar lantai bagian rumah Syamsul setelah mereka mendapat informasi dari seorang saksi yang mengaku pernah mendengar adanya penguburan warga di lantai rumah itu. Informasi itu muncul setelah polisi mengungkap penganiayaan terhadap PRT menyusul penggerebekan rumah penyalur tenaga kerja CV Maju Jaya di Jalan Beo simpang Jalan Angsa, kawasan Madong Lubis, Kamis (27/11) sore. Dari rumah milik Syamsul Anwar itu diselamatkan tiga PRT perempuan, yaitu Endang Murdaningsih (55) asal Madura, Anis Rahayu (25) asal Malang, dan Rukmiani (43) asal Demak.
Kondisi ketiga perempuan itu memprihatinkan. Mereka mengaku kerap dianiaya. Di antara korban mengaku tidak digaji selama bertahun-tahun bekerja di sejumlah lokasi.
Selain mengaku kerap dianiaya, ketiga PRT itu juga menginformasikan kepada polisi ada rekan mereka bernama Cici --belakangan diketahui bernama asli Hermin Rusmidiaty--tewas setelah dianiaya pada akhir Oktober 2014. Perempuan itu kemudian dibawa dengan salah satu mobil milik Syamsul Anwar.
Informasi dari pekerja perempuan ini kemudian diselidiki polisi. Hermin dipastikan tewas dan dibuang ke kawasan Barus Jahe, Karo. Keluarganya sudah didatangkan ke Medan untuk menjalani tes DNA dan mereka juga mengidentifikasi perempuan itu di Karo.
Belakangan para PRT yang selamat juga menyebut Yanti --bernama asli Nurmiyati (25)-- juga jadi korban penganiayaan. Mereka bahkan mengenali perempuan itu merupakan Mrs X yang ditemukan di Medan Labuhan.
Polisi sudah menetapkan 7 tersangka dalam kasus ini, yaitu Syamsul Anwar dan istrinya Radika, anaknya M Tariq, dan keponakannya Zakir beserta dua pekerja yaitu Kiki Andika, Bahri dan seorang sopir bernama Fery. Mereka dikenakan pasal pembunuhan, penganiayaan, pengeroyokan, KDRT, dan perdagangan manusia.
(mdk/hhw)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya