Di Lamongan, Mensos Khofifah sapa puluhan mantan napi teroris
Merdeka.com - Menteri Sosial (Mensos), Khofifah Indar Parawansa mengunjungi Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) di Lamongan, Jawa Timur. YLK didirikan oleh mantan isntruktur bom Jamaah Islamiyah, Ustaz Ali Fauzi, yang juga saudara kandung pelaku bom Bali jilid satu, Amrozi bin Nurhasyim.
Di YLK, ada puluhan mantan narapidana teroris, termasuk anak kandung Amrozi, Zulia Mahendra. Sebelum mendapat binaan dari sang paman, sembilan tahun Zulia menyimpan dendam pada negaranya karena telah mengeksekusi mati ayahnya pada 2008 silam.
Dan berkat binaan Ali Fauzi di YLK, pria 32 tahun itu kembali kepangkuan NKRI. Tanggal 17 Agustus 2017 kemarin, dia juga ditunjuk menjadi salah satu pengibar bendera pada upacara peringatan HUT RI ke-72 di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro.
"Jadi saya hadir di sini, untuk membangun silaturahmi dengan keluarga besar Yayasan Lingkar Perdamaian, dan komandannnya adalah Ustaz Ali Fauzi, saya berharap sapaan ini akan meberikan perlindungan-perlindungan sosial yang lebih kongkrit, lebih subtantif," terang Khofifah di hadapan para eks kombatan teroris yang hadir.
Perlindungan-perlindungan sosial yang dimaksut Khofifah adalah, kebutuhan sekolah anak-anak para eks napiter dengan memberi Kartu Indonesia Pintar (KIP). Kemudian Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Sejahtera (KIS) untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
"Hal-hal seperti ini menjadi penting untuk kita komunikasikan, supaya pemenuhan perlindungan sosial kepada mereka yang sebelumnya, mungkin, kita mengenal mereka eks napi teroris atau merek eks kombatan dan seterusnya," ungkap menteri yang juga Ketum PP Muslimat NU ini.
"Hari ini mereka bersama-sama kita, menempatkan bahwa Indonesia adalah rumah besar kita. Maka, kita semua tentu punya kewajiban untuk membangun ketenangan, kenyamanan, dan penuh kasih sayang," sambungnya.
Sementara Ali Fauzi mengatakan, YLK yang didirikannya pada 2016 lalu, memiliki program-program pembinaan, yang diharapkan bisa membangun kembali Indonesia sebagai bagian dari rumah mereka, para eks napiter.
"Ada dua poin yang saya sampaikan. Program-program kita ke depan, berawal dari harapan, saya menginginkan Indonesia bagian dari rumah mereka. Karena itu rumah, maka wajib dirawat, wajib dijaga, dan dibersihkan. Caranya dengan membentuk bersama-sama supaya rumah itu bisa terwujud rumah yang sakinah mawaddah warohmah," katanya.
(mdk/msh)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya