Di balik ketenangan seorang Anas Urbaningrum
Merdeka.com - Tutur kata yang keluar dari mulutnya selalu terjaga. Intonasi bicaranya pun tidak pernah meledak-ledak. Dikenal sebagai politisi santun, Anas Urbaningrum selalu percaya diri ketika tampil di hadapan media. Meski berbagai tudingan terkait kasus dugaan korupsi proyek Hambalang bertubi-tubi mengarah kepadanya.
Rabu (27/6) kemarin, Anas menjadi salah satu dari sekian puluh orang yang telah dipanggil KPK untuk dimintai keterangan dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional Hambalang, Jawa Barat.
Pemeriksaan ini menjadi yang pertama bagi dia sejak namanya berulang kali disebut oleh mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin. Nazaruddin mengatakan kalau Anas yang mengatur proyek tersebut dengan memenangkan salah satu perusahaan kontraktor yakni PT Adhi Karya. Bahkan, perusahaan milik istri Anas, Athiyyah Laila juga menjadi salah satu subkontraktor yang mengerjakan proyek Hambalang. Dari upaya memuluskan proyek tersebut, Nazar menyebutkan ada uang Rp 100 miliar yang digunakan untuk memenangkan Anas menjadi ketua umum Partai Demokrat dalam kongres kedua di Bandung tahun 2010.
Satu lagi, Nazar menyebut jika saat Anas menjadi ketua Fraksi Partai Demokrat DPR, dia memerintahkan Ignatius Mulyono untuk mengurus sertifikat tanah di bukit Hambalang yang menjadi ganjalan dimulainya proyek tersebut. Mulyono yang merupakan anggota Komisi II DPR kenal dekat dengan Kepala Badan Pertanahan Joyo Winoto.
Atas berbagai tudingan itu, berkali-kali Anas membantahnya. Anas selalu dengan tenang menyampaikan sanggahan. Hingga pada satu kesempatan Anas menyatakan jika dia terbukti menerima satu rupiah saja dari proyek Hambalang, dirinya siap digantung di lapangan Monas. Dia melontarkan pernyataan itu tetap dengan gaya kalemnya sambil tersenyum.
Perjalanan Anas mentas di kancah politik nasional dimulai ketika dia menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada kongres yang diadakan di Yogyakarta pada 1997. Saat puncak gerakan reformasi di tahun 1998 membawanya menjadi anggota Tim Revisi Undang-Undang Politik, atau Tim Tujuh, yang menjadi salah satu tuntutan Reformasi.
Saat Pemilu 1999 digelar, Anas menjadi anggota Tim Seleksi Partai Politik, atau Tim Sebelas, yang bertugas memverifikasi kelayakan partai politik untuk ikut dalam pemilu. Selanjutnya ia menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode 2001-2005 yang mengawal pelaksanaan pemilu 2004 hingga kemudian mundur dan bergabung dengan Partai Demokrat.
Sejak awal dikenal publik, Anas konsisten dengan sikapnya yang santun. Oleh sejumlah pengamat, dia digadang-gadang akan menjadi salah satu kandidat pemimpin bangsa masa depan. Apalagi karir politiknya yang moncer dengan memegang pucuk pimpinan Partai Demokrat yang memenangkan Pemilu 2004.
Karir politik Anas kini sedang dipertaruhkan. Sejak kasus Wisma Atlet Palembang yang menjadikan Nazar sebagai terpidana, dia terus berada dalam pusaran konflik internal partai. Apalagi manuver sebagian kader Demokrat semakin keras memaksanya mundur. Namun Anas bergeming dengan keyakinannya bahwa dia tidak terlibat dengan semua kasus yang dituduhkan kepadanya. Lagi-lagi Anas memilih cara yang elegan dengan tidak berkoar-koar di media massa. Seolah tak terpengaruh, dia terus melakukan konsolidasi internal dengan rajin berkunjung ke pengurus-pengurus daerah.
Soal kasus Hambalang, jika terbukti ikut terlibat, dapat dipastikan karir politik yang dibangunnya dari bawah akan tamat. Lagi-lagi Anas tidak menampakkan kecemasan, saat ditanya usai pemeriksaan di KPK apa rahasianya tetap tampil tenang, dia menjawab "Karena pada kesempatan ini justru saya berkesempatan menjelaskan, mengklarifikasi, menjernihkan dan mendudukkan persoalan sebagaimana mestinya," ujarnya sambil tersenyum. (mdk/lia)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya