Di balik debat Pemred RCTI dengan aktivis pers
Merdeka.com - Pemimpin Redaksi RCTI (non aktif) Arya Sinulingga berdebat terbuka dengan aktivis pers Dandhy Dwi Laksono. Salah satu masalah yang diperdebatkan adalah soal surat peringatan yang diberikan Arya pada produser news Seputar Indonesia Raymond Arian Rondonuwu.
Raymond menolak permintaan untuk menayangkan berita tentang dugaan bocornya materi debat capres ke kubu capres Joko Widodo ( Jokowi ) yang ditayangkan Seputar Indonesia pada 11 Juni 2014. Raymond merasa sumber berita tersebut tidak jelas. Dia pun di-SP3 dan dipindah ke bagian riset oleh Arya Sinulingga.
Dandhy pun mempertanyakan keputusan Arya mengeluarkan SP3 kepada Raymond. Apalagi Arya Sinulingga adalah salah satu anggota tim sukses pasangan Prabowo - Hatta . Debat keduanya digelar di Dewan Pers, Jakarta, Selasa (2/7).
"Lagi-lagi intitusi pers kita diinjak-injak. Jaga pers sebagai independensi, ini sudah kesekian kalinya," kata Dandhy.
Dandhy pun mempertanyakan posisi Arya Sinulingga. Dia mengaku insan pers tapi menjadi anggota tim sukses Prabowo-Hatta.
Berikut cerita di balik debat Pemred RCTI dengan aktivis pers yang berlangsung di Dewan Pers:
Beber tanya jawab di Twitter
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comJauh sebelum kasus SP3 terhadap Raymond mencuat, Dandhy mengaku sudah mempertanyakan kapabilitas Arya sebagai insan pers maupun keberadaannya sebagai salah satu anggota di Tim Pemenangan Prabowo-Hatta. Apalagi, posisi yang ditempatinya dibuka secara terang-terangan di salah satu harian nasional.
Pertanyaannya itu bukan tanpa sebab, seruan yang dikeluarkan Dewan Pers agar insan pers yang terlibat dalam pemenangan salah satu calon atau terdaftar sebagai calon anggota legislatif harus mengajukan status nonaktif atau berhenti. Hal itulah yang menjadi pegangan dirinya saat mempertanyakan status Arya di RCTI maupun Timses Prabowo-Hatta.
Dandhy membeberkan pertanyaan yang diajukan lewat akun Twitter miliknya, semula dia bertanya soal penonakifannya sebagai Pemred RCTI. Tak lama, Arya langsung menjawab "Sudah non aktif". Pertanyaan berlanjut soal keterlibatannya di dalam redaksi RCTI, dan hal itu pun dijawab "maaf mas tidak ikut rapat."
Merasa penasaran, dia pun bertanya apakah kembali menjabat sebagai Pemred RCTI merupakan tugas dari calon tertentu, Arya menjawab dengan lugas "Tidak ada penugasan." Tak berhenti di situ, Dandhy kembali bertanya apakah nonaktifnya itu berupa cuti dengan penghasilan yang tetap berjalan, lagi-lagi dijawab Arya "Masa status nonaktif digaji."
"Saya merasa puas setelah mendapat jawaban itu," aku Dandhy.
Pemred nonaktif atau aktif
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comDalam debat yang dibalut dalam acara diskusi bertema "Kode Etik dan Demokrasi Newsroom", Dhandy menyatakan kekecewaannya atas keterlibatan Arya Sinulingga yang memutuskan memberikan surat SP3 terhadap mantan produser news Seputar Indonesia Raymond Arian Rondonuwu. Apalagi, Dandhy meyakini surat tersebut disampaikan dengan status Arya sebagai Pemred RCTI.
"Terus terang saya kecewa, ini berketerbalikan dengan pengakuannya pada saya di Twitter," keluh Dandhy.
Dia pun menjabarkan beberapa hal yang dianggapnya sebagai bentuk intervensi terhadap produk jurnalistik. Dalam pemaparannya, dia mempertanyakan proses pemberitaan soal isu bocornya materi debat kepada kubu Jokowi-JK ke pemberitaan malam dan esok paginya. Padahal, sejumlah media sudah mendapatkan bantahan langsung dari salah satu komisioner KPU yang diduga terlibat, Hadar Gumay.
Mendapat pertanyaan itu, Arya kembali menekankan telah berstatus nonaktif sebagai Pemred sejak tahun lalu, atau tepatnya Juli 2013. Ketika itu, dia masih menjabat sebagai Pemred di Global TV.
"Sebelum ada seruan Dewan Pers saya sudah nonaktif. Sekitar bulan Juli 2013 ketika pemred di Global TV, jadi seruan Dewan Pers Januari 2014. Saya sudah melakukannya pada 2013. Secara sadar, melakukannya tanpa ada seruan pimpinan dari siapa pun. Waktu atasan saya jadi di Hanura. Bahwa yang namanya seminggu sebelum diangkat, saya sudah diminta, saya enam bulan jauh-jauh hari sebelum Dewan Pers memberikan sebuah seruan," jelasnya.
Ikut campur dalam masalah konten
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMasih soal nonaktif, Dandhy meyakini Arya masih terlibat dalam pengurusan konten. Pertanyaan Dandhy itu disandarkannya pada rekaman yang beredar lewat rekaman yang tersebar di Youtube.
"Ini ada bukti rekamannya di Youtube yang saya kuat duga terjadi di ruang beliau, maka merujuk pada tweet lalu berarti anda nonaktif," tegasnya.
Arya kemudian menjawab perihal status nonaktifnya. Menurutnya, status nonaktif hanya terjadi di meja redaksi, atau urusan pemberitaan. Sedangkan ia tetap aktif sebagai Pemred RCTI di bidang manajemen.
"Urusan pers saya nonaktif, urusan manajemen saya aktif," sahutnya.
Soal pemberitaan yang kemudian ditayangkan dalam program Seputar Indonesia, itu merupakan hasil perdebatan antara produser maupun korlip. Sehingga, dia mengklaim surat peringatan yang dibuat merupakan produk manajemen, bukan pers.
"Jadi pada prinsipnya terbagi dua, manajemen, karena manajemen SP3 karena bukan konten jurnalistik yang diperdebatkan, kenapa konten," lanjutnya.
Timses Capres
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSebagai aktivis pers, Dandhy merasa RCTI sebagai institusi pers telah diinjak-injak oleh kepentingan tertentu. Salah satunya demi memenangkan salah satu calon presiden yang sama-sama bersaing di Pilpres 2014.
"Lagi-lagi intitusi pers kita diinjak-injak, kita harus menjaga pers sebagai independensi, ini sudah kesekian kalinya," keluh Dandhy.
Atas alasan itu, Dandhy kemudian mempertanyakan status Arya yang tercantum sebagai anggota Tim Pemenangan Prabowo-Hatta. Dalam sebuah surat kabar nasional, Arya menjabat sebagai Anggota bidang media.
"Apakah bung adalah partisan atau timses pasangan lain, kalau Raymond memang timses sebagai pendukung timses lain, maka perlawanan dia adalah politik saja," ucap Dhandy.
Dengan tegas, Arya mengakui dirinya merupakan salah satu anggota tim pemenangan pasangan calon yang maju pada Pilpres. Dia pun menyindir beberapa insan pers yang justru diam-diam menjadi pendukung, atau timses capres tertentu.
"Jelas saya ini clear, saya timses. Ada yang ngomong bukan timses, tapi timses. Pers-pers yang timses tapi enggak ngomong. orang pers adalah pengguna media sosial, apakah dia pecinta siapa dalam hal ini," jelasnya.
Tak hanya itu, Arya mengaku telah membangun nuansa demokrasi dalam ruang redaksinya. Salah satunya membuat ruang diskusi yang ditujukan agar masing-masing produser mengungkapkan pendapatnya untuk memutuskan layak atau tidaknya sebuah berita ditayangkan.
"Bagi saya sangat penting. Dan sampai hari ini saya masih diskusi dengan wartawan saya, dari manajemen sampai reporter. Karena saya terbiasa membangun diskusi," tandasnya.
Arya tuding Raymond kerap bolos rapat
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comPemimpin Redaksi RCTI Arya Sinulingga heran ketika mendengar pengakuan mantan Produser Seputar Indonesia Raymond Arian Rondonuwu yang dikabarkan penolakan berita soal bocornya materi debat kepada kubu Jokowi - JK. Sebab, sebagai produser, Raymond tidak pernah hadir untuk memberikan tanggapan terhadap berita yang ditayangkan di Seputar Indonesia.
"Di dalam newsroom, seperti kita ketahui ada proses pemuatan berita, yaitu evaluasi dan budgeting. Dan Raymond tidak hadir dalam evaluasi, dan Raymond tidak ikut budgeting. Perdebatan evaluasi ada di evaluasi dan budgeting. Jadi Raymond tidak hadir, di manakah dia komplain, tidak ada," ujar Arya dalam diskusi 'Kode Etik dan Demokrasi Newsroom' di Kantor Dewan Pers, Jakarta, Rabu (2/7).
Dia menjelaskan, Raymond hanya membuat sebuah tulisan catatan kaki tambahan di bagian paling bawah naskah yang ditulisnya dan kemudian dikirimkan ke dalam i-news. Isinya pun bukan keberatan atas berita yang ditayangkan, tapi protes terhadap pimpinan.
"Berita fitnah inilah yang dibuat wartawan saya (Raymond) yang dibuat di lingkungan news saya. Ini bukan komplain, ini bukan perjuangkan gugatan isi siar. Jadi kalau dikatakan di banyak berita dia menggugat, memperjuangkan, dan mendebat habis semua masalah berita ini tidak benar, itu bohong, ini berita fitnah yang dia bangun," tegasnya.
Atas alasan itulah, Arya lalu memberikan surat peringatan berupa SP3 terhadap Raymond karena menyebarkan gosip di internal RCTI. Apalagi, dia malah menghilang setelah menulis catatan kaki tersebut, atau mengikuti evaluasi berita.
"1, 2, 3 hari sebelumnya, tidak hadir juga. Saya tidak kenal dia, tidak tahu dia di mana. Dia tidak pernah hadir. Tidak pernah ada, coba cek di Youtube kalau tidak dipotong. Jadi bukan komplain, seperti yang dikatakan perjuangan jurnalistik. Saya ajak meeting sore-sore enggak pernah muncul," keluhnya.
Mengenai jawaban itu, Dandhy Dwi Laksono yang ikut dalam diskusi tersebut langsung mempertanyakan beberapa hal yang menurutnya aneh. Bahkan, dia menilai RCTI tidak memuat cover both side atas berita yang disampaikan itu. Padahal, dalam etika jurnalistik diwajibkan memasukkan unsur cover both side dalam pemberitaan yang diterbitkan.
"Lalu closernya gimana, endingnya gimana. Ketika semuanya bantah semua gimana RCTI untuk mengubah berita yang sudah kadung diberitakan," tanya dia kembali.
Namun, Arya enggan menjawab pertanyaan yang disampaikan Dandhy tersebut. Arya beranggapan telah memberikan fakta soal terbitnya SP3 terhadap salah satu anak buahnya.
"Saya rasa semuanya sudah jelas tadi," sahutnya.
(mdk/tyo)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya