Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Desmond tuding Waseso tak paham HAM pakai petrus basmi penjahat

Desmond tuding Waseso tak paham HAM pakai petrus basmi penjahat Desmond Junaidi Mahesa. ©dpr.go.id

Merdeka.com - Wakil Ketua Komisi III DPR Desmond Junaidi Mahesa menuding Kepala BNN Budi Waseso tidak paham mengenai hak asasi manusia. Hak tersebut berkaitan dengan rencana Waseso menghidupkan kembali penembak misterius (petrus) untuk membunuh pengedar atau bandar narkoba.

‎"Waseso kan enggak ngerti hak asasi. Ini kan biar dia kelihatan gagah aja kali. Ini yang saya bingung. Waseso ini penegak hukum atau algojo? Kalau dia penegak hukum tidak dengan cara berpikir begini, kalau dia algojo wajar-wajar saja," kata Desmond saat dihubungi merdeka.com, Jumat (27/11).

Politikus Partai Gerindra ini menyayangkan sikap Waseso yang cenderung cari sensasi tanpa dihadului pemikiran yang dalam. Desmond justru berharap Waseso mundur dari jabatannya.

"Ya lebih baik mundur sajalah Waseso daripada bikin isu-isu enggak benar. Cara berpikirnya sudah tidak masuk akal di negara hukum. Ini bukan negara polisi yang berhak membunuh siapa saja. Masa pimpinan lembaga BNN ngomong kayak gitu, saya jadi tidak paham," ujarnya.

Menurut Desmond, langkah Waseso untuk hidupkan kembali petrus itu terlalu bergegas. Dia menegaskan bahwa negara hukum tidak boleh membunuh seseorang secara langsung tanpa proses pengadilan. Desmond menilai langkah Wases‎o ini merupakan upaya menutupi ketidakmampuan BNN dalam berantas narkoba

‎"Ini kan negara hukum, bukan negara kekuasaan, bukan negara polisi. Harusnya diadilah, pengadilannya kan ada. Ini kan sama saja dengan pengakuan dari BNN sendiri bahwa mereka tidak mampu mengatasi persoalan narkoba ini. ‎Kalau BNN gak mampu ya jangan gunakan alat lain," pungkasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, Waseso tengah menyiapkan tim khusus pemburu gembong narkoba yang semakin meresahkan. Sudah jauh-jauh hari Budi Waseso menyatakan timnya siap menembak mati gembong narkoba.

Dikatakan Budi Waseso, tim Petrus dibentuk karena hukum di Indonesia masih kurang tegas terhadap para gembong narkoba. Tim Petrus akan ditempatkan di wilayah-wilayah perbatasan di mana kerap dijadikan jalur masuk narkoba dari negara lain.

"Secara teknis, Tim Petrus akan bergerak setelah mengantongi data dan identitas bandar atau pengedar dari hasil penyelidikan mendalam BNN. Sehingga tidak akan salah. Karena kita berikan data setelah betul-betul diketahui target memang betul bandar atau pengedar narkoba," tegasnya kepada Merdeka.com.

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP