Desa Yehembang minta dibuatkan jembatan untuk anak-anak sekolah
Merdeka.com - Pemandangan miris dari puluhan siswa SMPN 3 Mendoyo, Jembrana, Bali, yang harus menyeberangi sungai selebar 25 meter dengan air yang cukup dalam jika hendak ke sekolah, ternyata menggugah banyak pihak. Kepala Desa Yehembang Made Semadi ingin mewujudkan pembangunan jembatan untuk lintasan siswa ke sekolah.
"Sudah lama pihak sekolah seberang mendesak kami untuk buat jembatan gantung dan kami khawatir keselamatan anak-anak. Tapi anggaran dari pemerintah tidak ada," ucap Semadi, Selasa (17/3) di Mendoyo Jembrana Bali.
Rencana pembangunan jembatan tersebut telah dimasukan dalam rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMDes), serta diperjuangkan agar bisa masuk dalam rencana kerja pembangunan daerah (RKPD)
"Jika memang tidak layak dibangun jembatan besar. Minimal bisa dibangun jembatan gantung untuk penyeberangan siswa berjalan kaki," terang Semadi ditemui di kantornya.

Menurutnya jembatan tersebut khusus dibangun untuk lintasan siswa dari Banjar Bumbungan, Banjar Wali, dan Banjar Kaleran, yang jumlahnya cukup banyak. Masyarakat umum juga sering nyeberangi sungai jika hendak ke seberang.
"Kasihan siswa harus menyeberangi sungai dengan melepas sepatu. Bahkan jika air laut pasang dan masuk ke sungai, siswa juga sering lepas pakaian untuk ke sekolah," tutur Semadi.
Lintasan siswa ke sekolah yang terpotong oleh sungai itu menurutnya memang jalan alternatif ke sekolah dalam waktu singkat. Menurutnya memang ada jalan lain, yakni menyusuri jalan utama Denpasar-Gilimanuk, namun jaraknya cukup jauh karena harus memutar.
"Lagi pula jika lewat jalan raya, sangat rawan kecelakaan. Karena jalur utama Denpasar-Gilimanuk sangat padat arus lalu lintasnya. Karena itu kami akan perjuangkan pembangunan jembatan gantung demi keamanan siswa," pungkasnya.
Sementara itu Kepala SMP N 3 Mendoyo I Nengah Supriadi dikonfirmasi mengaku sangat mendukung langkah pihak desa untuk membangun jembatan gantung untuk lintasan siswanya dan masyarakat lain.
"Kami sangat mendukung dan kalau perlu kami ikut memperjuangkan pembangunan jembatan gantung itu. Kasihan puluhan siswa kami jika ke sekolah harus menyeberangi sungai. Apalagi jika air sungainya besar," ujarnya.
Menurutnya memang ada jalan lain, yakni jalan raya Denpasar-Gilimanuk, namun jaraknya jauh dan harus memutar, lagi pula rawan kecelakaan.
"Sudah pernah ada siswa kami kecelakaan saat berangkat ke sekolah. Kami juga melarang siswa pergi ke sekolah mengendarai motor karena belum cukup umur, makanya hampir sebagian besar siswa jalan kaki ke sekolah," tuturnya.
Bahkan tak jarang jika air sungai besar, siswa terpaksa melepas pakaiannya karena takut pakaiannya basah. Namun jika air sungai kecil, sejumlah siswa cukup melepas sepatunya.
(mdk/hhw)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya