Desa Kesiman gelar prosesi upacara di pekarangan rumah Angeline
Merdeka.com - Sesuai aturan adat, sejak ditemukannya jenazah Angeline di lokasi tempat yang tidak sepatutnya, Desa adat Gumi Kebon Kuri Kesiman, akhirnya menggelar upacara pecaruan (pembersihan alam). Upacara ini dikatakan, kelian banjar Kebon Kuri Kelod Kesiman, Putu Indrawan, ditujukan untuk menetralisir segala kedukaan dan kekotoran alam.
"Peristiwa ini, tentu ada darah yang tercecer di bumi. Apalagi kematian yang tidak wajar, dirasa perlu bagi kami desa adat untuk menggelar upacara pecaruan atau pembersihan," kata Indrawan, Selasa (16/6) di lokasi Jalan Sedap Malam, depan rumah Angeline.

Upacara ini katanya adalah Pecaruan Panca Sata yang dipusatkan di pertigaan jalan desa. "Pertama kita gelar tadi di pertigaan desa, selanjutnya sekarang ini di depan rumah tempat ditemukannya jasad korban. Kita lakukan depan rumah, karena kondisi masih steril dan kebetulan ada pura pesinggahan Batu Bolong di lokasi ini," ungkapnya.
Caru Panca Sata sendiri ditambahkan, Mangku Wayan Jawas seorang pemangku Pura Pemayun Khyangan di Kesiman, adalah caru dengan persembahan 5 ekor ayam berbagai warna (brumbun, hitam, merah, putih, dan buik).

Kata Mangku, upacara ini hanya awal dan harus digelar paling lambat 12 hari setelah peristiwa ditemukannya jasad manusia di desa yang mati tidak wajar. Setelah ini harus ada upacara pecaruan Panca Kelud (lebih besar dari panca Sata).
"Setelah ini ada upacara yang lebih besar lagi, tapi itu butuh waktu karena pendanaan yang besar," terang mangku.
Untuk upacara ini ditambahkan Indrawan menelan anggaran kurang lebih Rp 20 juta. Dana tersebut katanya diambil dari kas desa. "Harusnya upacara ini dibiayai oleh pemilik rumah atau yang menempati rumah. Karena masih ada proses hukum, jadi kesepakatan desa mengambil anggaran kas. Kurang lebih ada 20 juta," imbuh Indrawan, usai prosesi upacara. (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya