Derita Nenek Zahira, lumpuh dan hidup sendiri selama 4 tahun
Merdeka.com - Malang nian nasib nenek berumur 80 tahun ini, dalam kondisi lumpuh dia harus menjalani hidup sendiri. Ironisnya kondisi demikian sudah empat tahun dan tanpa mendapat bantuan dari dinas kesehatan setempat.
Selama empat tahun nenek ini hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur. Jangankan untuk duduk, untuk bergeser dari pembaringan saja dia tak mampu. Di lingkungan Kampung Islam Singaraja RT I, nenek ini dikenal bernama Zahira.
Kepala Desa atau Lurah Kampung Singaraja, Sutrisman menjelaskan, selama ini Nenek Zahira memang belum pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Buleleng. Bahkan diakuinya juga, dirinya sudah berulang kali mengajukan bantuan ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng untuk warganya yang cacat, agar mendapatkan bantuan kesehatan. Namun, hingga saat ini masih belum terealisasi.
"Di Kelurahan kami, sudah tercatat ada enam orang yang cacat dan miskin. Semuanya sudah kami usulkan ke dinas terkait, bahkan kami juga sudah bersurat ke sana, tapi memang sampai sekarang ini, belum ada yang terealisasi. Terakhir tiga bulan lalu, tapi terus terang belum ada bantuan," terangnya di Singaraja, Kabupaten Buleleng Bali, Minggu (18/10).
Ditemui di dalam rumah gubuk yang tidak lebih ukurannya seukuran kandang sapi (3x4 meter), nenek ini hanya menangis tatkala wartawan datang diantar keponakannya Nur Fariah (30) bersama kepala lingkungan setempat. Kebetulan wartawan ini berlangganan lontong di lapak lesehan tempat Nur berjualan di Pasar Buleleng.
Diterangkan Nur, selama ini bibinya memang hidup menyendiri. Punya dua anak, yang satu sudah lama meninggal dan anak perempuan lagi satu sudah menikah namun tidak pernah datang kembali.
"Bibi saudara ayah saya, sudah almarhum. Selama ini setiap sore saya selalu datang mengunjungi. Saya bingung mau harus gimana ini," ungkap Nur sambil terisak di samping bibinya.
Pun demikian, dalam kesendiriannya Kata Nur bahwa Zahira sebelum lumpuh jadi banyak orang datang padanya untuk belajar mengaji. Namun semenjak lumpuh, tak ada lagi yang sungkem dan belajar mengaji. Maklum dalam ruangan kamar yang sempit, baunya sengak dan pesing. Bahkan selama 4 tahun, nenek ini MCK di kasur.
"Dulu Bibi ngajar ngaji, banyak bisa baca Alquran karena Bibi. Sekarang ia kesepian," aku Nur.
Selama ini, cerita Nur tdak pernah mendapat perawatan kesehatan kecuali jamu. Sempat untuk dibawa ke RSUD Buleleng, namun tidak jadi karena harus oprasi dan biayanya mahal.
Di tempat terpisah, Ketua Lingkungan Kampung Singaraja I, Rasyid mengatakan, dirinya mengharapkan, adanya peran serta pemerintah, untuk membantu Nenek Zahra. Sehingga, beban keluarganya menjadi ringan.
"Nenek ini sebenarnya punya dua anak. Satu anaknya sudah meninggal. Sementara seorang anak lainnya tinggal di Denpasar dan hampir tidak pernah pulang menengok ibunya yang sakit. Kami mengharapkan, kelayakannya biar ada perhatian, bukan saja dari pemerintah, tetapi dari keluarga itu sendiri," katanya.
Terkait ini, Kepala Dinkes Buleleng, IGN Mahapramana membatah pihaknya tidak merespons soal hal ini. Justru dirinya mengaku kaget ada laporan yang katanya sudah bersurat ke dinas kesehatan namun tidak ditanggapi.
Jutru dirinya menegaskan, setiap warga miskin yang mengalami sakit, berhak mendapatkan pengobatan secara gratis. Dia pun berjanji untuk mengecek kebenarannya.
"Warga miskin yang sakit itu, bisa mendapatkan pengobatan secara gratis, dengan datang langsung ke Puskesmas terdekat, atau kalau memang tidak sanggup datang, biarkan petugas kami yang ke sana," ungkapnya. (mdk/cob)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya