Demokrat nilai penyanderaan WNI terulang karena 3 negara tak serius
Merdeka.com - Anggota Komisi I DPR Mayjen TNI (Purn) Salim S Mengga menegaskan, di wilayah perbatasan laut Indonesia, Filipina, dan Malaysia merupakan wilayah tangkapan nelayan tradisional sekaligus berfungsi sebagai pelintasan perdagangan antar pulau yang sudah berlangsung cukup lama.
Namun di wilayah tersebut juga beroperasi perompak, bukan hanya dari kelompok Abu Sayyaf. Maka dari itu Salim menilai 3 WNI yang kembali disandera kelompok bersenjata, dampak dari tidak seriusnya kerjasama keamanan 3 negara tersebut.
"Hal seperti ini akan terus terjadi kalau negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Filipina tidak secara serius membangun kerja sama keamanan laut bersama. Kerjasama menjadi sangat penting bagi ketiga negara ini," kata Salim saat dihubungi, Selasa (12/7).
Anggota dewan pembina Partai Demokrat ini mengatakan, pola menyadera tiga orang yang memiliki pasport (WNI), tidak identik dengan kelompok Abu Sayyaf. Kemungkinan menurutnya mereka perompak lain.
"Atau kalau mungkin mereka bagian dari kelompok perlawanan yang ada Filipina mereka adalah sempalan yang sudah tidak loyal," tuturnya.
Sebelumnya, Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari kecewa atas WNI kembali disandera kelompok bersenjata. Kali ini ada 3 WNI yang memiliki pasport disandera di Perairan Sabah, Malaysia.
Menurut dia, negara kita sudah dilecehkan. "Prihatin kenapa negara kita dilecehkan oleh orang atau kelompok. Itu artinya kewibawaan kita tidak dihitung," kata Kharis saat dihubungi, Senin (11/7).
Politikus PKS tersebut menilai seharusnya ada diplomasi yang dilakukan tidak secara instan. Hal tersebut agar Indonesia diperhitungkan kewibawaannya.
"Awasi 24 jam seluruh wilayah laut dan enggak mungkin awasi tiap kapal yang lewat. Yang memungkinkan tingkatkan kewibawaan kita agar mereka menghitung," tuturnya. (mdk/hrs)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya