Demi biaya berobat ke India, Fahmi upload videonya ke Youtube
Merdeka.com - Perjuangan Anik Marwati dan Murtandlo, orangtua Fahmi dan Faqih penderita penyakit langka Duchenne Muscular Distrophy (DMD) untuk menyembuhkan anaknya sudah tidak bisa diukur lagi dengan materi. Mereka dengan sabar menemani Fahmi dan Faqih untuk menjalani terapi sejak masih kecil.
Fahmi sendiri sudah mulai menjalani terapi sejak TK. Terapi yang diberikan pun bukan upaya menyembuhkan tetapi hanya untuk menghambat pelemahan otot akibat kelainan gen.
"Sejak ketahuan, kita terapi, tapi belakang kita sudah bosan karena tidak ada perkembangan," kata Anik, Ibu Fahmi dan Faqih, di Dusun Dadapan, Wonokerto, Turi, Sleman, Selasa (6/1) kemarin.
Untuk terapi itu sendiri Anik dan Murtandlo sudah menghabiskan banyak uang bahkan sampai menjual tanah mereka. "Kita sampai utang sana-sini, waktu terapi sudah nggak bisa kemudian kita cari pengobatan alternatif," ujarnya.
Suatu ketika, Fahmi menemukan sebuah website yang berisi informasi tentang penemuan obat penyakit yang dideritanya. Mahastra sebuah rumah sakit di India merilis percobaan obat DMD pada tahun 2011. Meski tidak meyakinkan, keinginan Fahmi untuk mencoba pengobatan tersebut sangat kuat. Untuk memastikan dia pun kemudian menghubungi salah seorang dokter di RS Mahastra melalui email.
"Kami juga ke Sarjito untuk menanyakan apa benar sudah ada obatnya, dari Sarjito bilang itu baru percobaan," tambah Anik.
Fahmi pun terus berusaha untuk mengupdate informasi terkait dengan penyakitnya tersebut. Dia dikirimi beberapa buku dan brosur dari RS Mahastra tentang bagaimana cara menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Pada tahun 2014 Fahmi semakin yakin RS Mahastra bisa menyembuhkan penyakitnya.
Terhitung sejak tahun 2011 hingga 2014, RS Mahastra sudah menyembuhkan 350 penderita DMD. Sayangnya biaya pengobatannya sangat mahal. Diperkirakan mencapai USD 9.900, itu belum termasuk biaya pulang pergi Indonesia-India dan lainnya.
"Ada juga dari Jerman, Inggris dan Amerika yang juga sudah membuat obatnya, tapi biayanya begitu mahal kita nggak sanggup," jelas Anik.
Setelah berdiskusi dengan beberapa temannya, akhirnya mereka sekeluarga memutuskan membuat video tentang Fahmi dan Faqih untuk mencari donasi. Mereka secara manual memberikan video kepada beberapa orang supaya mendapat bantuan. Namun cara tersebut tidak menghasilkan.
Meski sempat berdebat panjang, mereka pun akhirnya memutuskan untuk mengunggah video tersebut ke Youtube supaya lebih mudah diakses oleh banyak orang.
"Kami akhirnya upload ke youtube, alhamdulillah kami kemudian mendapat banyak donasi, dari puskesmas-puskesmas di Sleman juga memberikan bantuan," tuturnya.
Sampai saat ini mereka sudah mengumpulkan bantuan mencapai Rp 250juta. Jumlah tersebut masih kurang untuk memberangkatkan Fahmi dan Faqih ke India.
"Kami juga minta tolong ada kenalan dulu pernah tinggal dua belas tahun di India, nanti dia bersedia mengantar Fahmi dan Faqih. Dia juga sudah meminta bantuan temannya di India untuk memastikan pengobatan di Mahastra," ungkapnya.
(mdk/hhw)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya