Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Data: Kasus Kematian Akibat Covid-19 Terus Melonjak Sepekan Terakhir

Data: Kasus Kematian Akibat Covid-19 Terus Melonjak Sepekan Terakhir Ilustrasi virus corona. ©2020 Merdeka.com/liputan6.com

Merdeka.com - Kasus kematian akibat Covid-19 terus meningkat dalam sepekan terakhir. Peningkatan terjadi seiring dengan kenaikan kasus terkonfirmasi positif Covid-19.

Kasus positif Covid-19 mulai meningkat pada 5 Januari 2022. Pada saat itu, kasus kematian Covid-19 harian bertambah 4 orang. Sementara pada 10 Februari 2022, bertambah sebanyak 74 kematian Covid-19.

Peningkatan terus terjadi hingga 14 Februari 2022 mencapai 145 kasus kematian Covid-19. Namun sehari setelahnya, penambahan kematian Covid-19 sempat menurun ke angka 134.

Sementara per 16 Februari 2022 kembali meningkat menjadi 167 kasus kematian Covid-19. Peningkatan ini terjadi hanya dalam waktu 24 jam.

Berikut penambahan kasus kematian dalam sepekan terakhir berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 yang dikutip pada 17 Februari 2022:

10 Februari 2022: Tambah 74 kasus kematian11 Februari 2022: Tambah 100 kasus kematian12 Februari 2022: Tambah 107 kasus kematian13 Februari 2022: Tambah 111 kasus kematian14 Februari 2022: Tambah 145 kasus kematian15 Februari 2022: Tambah 134 kasus kematian16 Februari 2022: Tambah 167 kasus kematian

Kematian saat Omicron Lebih Rendah dari Delta

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmidzi mengatakan, kasus Covid-19 harian saat ini sudah melampaui gelombang kedua. Data 16 Februari 2022, kasus Covid-19 harian bertambah 64.718, lebih tinggi dari puncak gelombang kedua yang mencapai 56.757. Meski demikian, penambahan kasus kematian lebih rendah.

"Melihat jumlah kematian kemarin dilaporkan ada 134 kematian. Jumlah ini jauh lebih rendah. Kita tahu pada saat Delta dengan angka 56.000, angka kematian yang dilaporkan sekitar 2.500," jelasnya dalam konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube Kementerian Kesehatan RI, Rabu (16/2).

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito juga menyampaikan hal serupa. Dia mencatat, data pekan lalu, penambahan kasus kematian akibat Covid-19 sebanyak 505 orang. Sementara saat puncak gelombang kedua mencapai lebih dari 1.200 orang meninggal.

"Walaupun demikian, nyawa tetaplah nyawa yang tidak tergantikan," tegasnya.

Perlu Analisis Mendalam Kematian Covid-19

Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama membenarkan kematian yang terjadi selama Omicron merebak jauh lebih rendah dibandingkan gelombang Delta. Namun, dia mengingatkan kematian tidak dapat digambarkan dengan angka perbandingan saja.

"Perlu pula dilihat bagaimana dampak pada keluarga yang ditinggalkan, nyawa yang hilang tidak tergantikan, serta berbagai pertimbangan aspek lainnya," katanya melalui pesan singkat, Kamis (17/2).

Kementerian Kesehatan telah menganalisis data kematian Covid-19 yang terjadi hingga 13 Februari 2022 mencapai 1.090 orang. Hasil analisis menunjukkan, 68 persen kematian belum divaksinasi lengkap, 49 persen kematian masuk golongan lanjut usia, dan 48 persen memiliki komorbid.

Prof Tjandra mengusulkan agar pemerintah menganalisis data kematian Covid-19 lebih mendalam, setidaknya dalam lima bentuk. Pertama, penentuan cause of death (COD) apakah karena Covid-19 dengan badai sitokin atau justru akibat perburukan komorbid yang ada, atau gabungan keduanya.

"Dua, dianalisa bagaimana perjalanan klinik dari mulai tertular, manifestasi gejala awal dan proses perburukannya sampai pasien wafat," ujar mantan Kepala Badan Litbang Kementerian Kesehatan ini.

Ketiga, menganalisis data perbandingan antara Omicron dan varian lain pada pasien yang meninggal dunia. Keempat, menganalisis apakah pasien Covid-19 wafat di rumah sakit, di rumah atau tempat lain.

"Lima, dihitung waktu yang dibutuhkan proses penanganan, yang biasa kita kenal dalam bentuk patient’s delay atau doctor’s delay atau health system delay atau mungkin hospital delay, dan lain-lain," ucapnya.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara ini menyarankan agar hasil analisis data kematian Covid-19 lebih mendalam dipublikasi melalui jurnal ilmiah sehingga dapat menjadi pembelajaran untuk penanganan di waktu mendatang.

Pasien Bergejala Ringan Perlu Dirawat di RS

Prof Tjandra Yoga Aditama mengusulkan agar pasien Covid-19 bergejala ringan namun berisiko menjadi berat dirawat di rumah sakit. Hal ini untuk menekan angka kematian Covid-19.

"Jadi, usul konkret saya untuk mengantisipasi peningkatan kasus yang meninggal adalah dengan kemungkinan merawat di RS pasien yang masih gejala ringan tetapi punya risiko untuk menjadi berat dan bukan tidak mungkin meninggal dunia," katanya.

Menurut mantan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan ini, kebijakan pasien Covid-19 yang perlu dirawat di rumah sakit bisa disesuaikan dengan kondisi. Jika BOR rumah sakit rujukan Covid-19 meningkat, pasien bergejala ringan dapat dirawat di tempat lain.

"Nanti kalau BOR sudah meningkat maka kebijakan dapat disesuaikan lagi," ujarnya.

Dia menyebut, merujuk data Kementerian Kesehatan, BOR rumah sakit rujukan Covid-19 saat ini belum dihitung dari kapasitas maksimal. Bahkan masih banyak tempat tidur yang belum dikonversi untuk penanganan pasien Covid-19.

(mdk/eko)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP