Damainya Tradisi Memujung di Bali, makan bersama di atas kuburan
Merdeka.com - Peringatan hari raya suci Pagerwesi menjadi momentum istimewa bagi umat Hindu di Bali. Seperti dilakukan di Kabupaten Buleleng, Bali, sebagian masyarakat menggelar tradisi adat Memunjung dalam perayaan ini. Mereka nantinya akan berziarah dan makan bersama di makam anggota keluarga.
Kedatangan mereka juga sebagai simbolis penghormatan terhadap arwah leluhur. Tradisi Memunjung juga dilakukan turun termurun. Berziarah dan makan bersama di makam ini juga dilaksanakan setiap perayaan besar agama Hindu, baik Pagerwesi, Galungan dan Kuningan.
Salah satu umat ditemui di kuburan Buleleng, Parwata, mengatakan tradisi Memunjung dimaknai sejak lama oleh umat Hindu di Kecamatan Buleleng. Bersama keluarga Sagung Wulan datang mengunjungi makam mertua laki-lakinya, yang meninggal sejak 2009 lalu.
Prosesi doa juga tidak lupa dipanjatkan. Setelah berdoa bagi almarhum, para peziarah tidak langsung pulang ke rumah, melainkan bercengkrama sambil makan mengobrol bersama keluarga di kuburan.
"Kalau setiap hari raya, kami selalu membawa punjungan semacam sesaji, berisi banten dan makanan. Saya bersama ibu mertua, keluarga dan anak-anak, mengawali persembahyangan dengan maturan di sanggah di rumah, di Pura dan terakhir memunjung menuju kuburan Buleleng," kata Parwata, Rabu (29/6).
Klian Adat Desa Pakraman Buleleng, Nyoman Sutrisna menerangkan, tradisi memunjung di Buleleng diperingati bertepatan dengan hari besar keagamaan Hindu. Tradisi Memunjung turun temurun sejak zaman Mpu Kuturan. Maknanya sebagai bentuk rasa syukur, atas hasil bumi dan dipersembahkan kepada orangtua atau kerabat yang meninggal mekiisan di kuburan atau setra.
Di Kecamatan Buleleng terdiri atas 14 banjar adat dan 10 kelurahan, seluruh masyarakat melakukan kegiatan pitra yadnya, dan dipusatkan di kuburan Buleleng.
"Bersama keluarga sesaji banten memunjung di persembahan kepada keluarga atau kerabat yang ada di setra. Setelah selesai sembahyang, sesaji lalu dinikmati makanannya bersama keluarga," terang Sutrisna.
Sutrisna menambahkan, keberadaan kuburan Buleleng sendiri tengah menata keasrian taman, meletakan patung-patung hias, dan ke depan kuburan Buleleng akan dijadikan paru-paru kota. Tentunya lewat tanaman pohon-pohon besar, dan penataan taman di sekitarnya.
Pihaknya mengimbau masyarakat agar tetap mengkhayati tradisi dan nilai-nilai dalam hari raya suci Pagerwesi. Selainnitu, umat Hindu juga wajib memagari diri, mengingat akan ada hari raya besar selanjutnya seperti Galungan dan Kuningan.
Segala perbuatan, pikiran, dan perkataan wajib berlandaskan niat baik serta tulus ikhlas. "Melalui pengamalan Tri Kaya Parisudha, hari raya pagerwesi kali ini harus terus dikumandangkan, dan memagari diri sehingga bisa memunculkan vibrasi," ujarnya.
(mdk/ang)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya