Curhatan mojang geulis Bandung soal sistem pendidikan Indonesia
Merdeka.com - Praktik perploncoan dalam masa orientasi peserta didik baru di Kota Bandung telah dihapus. Pemerintah Kota Bandung lebih mengutamakan pendidikan karakter melalui program 'Bandung Masagi'. Kondisi ini justru membuat para peserta didik merasa lebih baik, khususnya para bagi para siswi.
Para mojang geulis, sebutan bagi perempuan cantik di Bandung, ini merasa dihapusnyaperploncoansejalan dengan aksi revolusi mental.
"Enggak ada kekerasan bagus ya justru. Seperti yang dicanangkan revolusi mental, ya harus diterapkan juga di sekolah," kata siswi kelas XI BPI Kota Bandung, Annisa Febrina, kepada merdeka.com, Senin (18/7) lalu.

Annisa merasa perkenalan siswa baru harus dikemas dengan cara menyenangkan. Karena untuk minta dihormati sebagai senior tidak harus dengan cara mengintimidasi.
"Itu kan katanya untuk bagusin mental. Bukan gitu caranya. Ospek-ospekan? Enggak bangetlah, enggak gitu caranya," ujar perempuan dengan rambut tergerai hingga pundak itu.
Aksiperploncoan juga telah dilarang pemerintah pusat sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikandan Kebudayaan Nomor 18 tahun 2016. Dalam peraturan tersebut ditegaskan sekolah dilarang menerapkanperploncoanmasa orientasi siswa (MOS) baru.
Mojang geulis lainnya, Kartika Wulan, siswi kelas XI SMA Negeri 8 Bandung mengatakan, praktikperploncoan hanya akan membuat ketakutan para siswa siswi dalam menempuh pendidikanbaru. "Bagus ya dienggak adainnyaperploncoanini. Jadi tahun sekarang enggak usah adalagi takut-takutan (ikut MOS). Kalau dulukan tegang," ungkap Kartika kepada merdeka.com, Selasa (19/7) kemarin.

Banyak cara pengenalan lingkungan sekolah terhadap siswa baru dilakukan lebih menyenangkan. Langkah ini tentu membuat para siswa baru makin betah bersekolah. Apalagi sekolahnya menjadi percontohan memperkenalkan masa pengenalan lingkungan sekolah (PLS) berbasis pendekatan karakter.
"Ada caranya ya yang bisa dilakukan biar pada enggak takut, saya saja dulu takut kalau dengar ada kaya gitu (plonco)," ungkap gadis berusia 15 tahun ini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan meyakini hilangnya sistem itu makin membuat hubungan senior dan junior terjalin. Sebab, kegiatanperploncoan dianggapAnies sebagai hal tidak berguna.
"Sekarang eranya sudah berbeda. Bukan kolonial. Budayaperploncoan itu harus diubah, kita ini negaramerdeka dan harus memerdekakan orang lain," kata Anies, kemarin.
Dari situlah Anies lewat kementeriannya sudah melakukan pelarangan adanyaperploncoan di sekolah.Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 18 tahun 2016 disebutkan sekolah dilarang menerapkanperploncoan pada masa orientasi siswa (MOS)baru.
"Ayo menumbuhkan ketangguhan dengan kedamaian," terangnya.
(mdk/ang)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya