Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Cuma butuh 3 menit, eks pimpinan JI rayu pemuda ikut paham radikal

Cuma butuh 3 menit, eks pimpinan JI rayu pemuda ikut paham radikal Ilustrasi ISIS. ©2015 Merdeka.com/Angeline Agustine

Merdeka.com - Mantan pimpinan Jamaah Islamiyah (JI) Australia, Abdul Rahman Ayub menyebut tak butuh waktu lama untuk memasukkan paham radikalisme di kalangan pemuda. Apalagi, pemuda tersebut sedang mempunyai permasalahan pribadi dalam hidupnya.

Para kelompok radikal, kata dia, lebih memilih merayu para pemuda yang sedang putus asa lantaran tidak memiliki pekerjaan atau karena ketidakpastian akan masa depan. Rayuan seperti yang dilakukan mantan kelompoknya saat itu akan lebih mengena jika menggunakan hadist atau ayat-ayat Alquran.

"Kalau merayu pemuda yang pintar mungkin butuh waktu yang agak lama, bisa berjam-jam. Tapi kalau pemuda yang sedang galau, hanya 30 menit. Kalau yang sedang stres berat ya paling cuma 3 menit saja," ujar Abdul Rahman Ayub disela menjadi pembicara pada acara Seminar Nasional Gerakan Pemuda Indonesia Membaca untuk Persatuan Indonesia Dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional di Gedung Saba Buana, Solo, Selasa (5/4).

Ayub mengatakan, paham terorisme tidak semata-mata muncul dari diri seseorang. Namun melalui doktrin paham penafsiran agama yang salah, terutama kepada anak muda. Untuk memberantas terorisme ini, imbuh dia, membutuhkan waktu lama. Berbeda dengan tim gegana misalnya, bisa dengan mudah menjinakkan bom, karena mempunyai peralatan lengkap.

Ayub mengatakan, anak muda akan merasa senang jika diberikan hadist atau ayat Alquran. Mereka akan merasa lebih dekat dengan Tuhan disaat putus asa. Namun, ia menyayangkan banyak penafsiran yang menyimpang.

"Semasa muda saya bersekolah di Jakarta senang tawuran meski kedua orangtua saya pegawai negeri sipil (PNS). Dari kelakukan dan masa depan saya yang tidak jelas ini, akhirnya saya mudah terdoktrin untuk mengikuti kelompok radikal," jelasnya.

Dia menambahkan, dari kebiasaannya yang gemar tawuran, membuatnya tertarik ikut kelompok perang dan langsung dikirim ke Afghanistan. Saat itu, rencananya ia mau berperang melawan Rusia tetapi akhirnya berbalik menyerang NKRI.

Setelah dari Afghanistan, Ayub mengaku pernah berpindah-pindah tugas mulai dari wilayah Filipina hingga Indonesia.

Setelah itu, dia menyadari bahwa pandangannya yang radikal itu salah sehingga dia memutuskan untuk berhenti.

Dia menilai, banyak penafsiran yang menyimpang. Dia mencontohkan, beberapa anggota ISIS (Islamic State of Syria Iraq) tega memenggal kepala orangtuanya karena tidak mau dibaiat menjadi anggota ISIS.

"Usaha saya untuk keluar dari jaringan Jamaah Islamiyah tidak mudah, membutuhkan waktu yang panjang. Harus berkelahi atau berdebat, tidak hanya dari sesama ulama Indonesia, tetapi juga ulama luar negeri seperti Afghanistan hingga Lebanon," ucapnya.

Terkait dana yang digunakan oleh kelompoknya, Ayub mengatakan, diperoleh dari jaringan Al Qaida yang dipimpin oleh Osama bin Laden.

(mdk/rnd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP