Cucu Tjokroaminoto: Pelajar disibukkan soal Unas, lupa akar sejarah
Merdeka.com - Meski tak mengenal sosok Raden Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, Harjono Sigit Bahrul Salam mengaku sangat senang ketika sang kakek difilmkan. Anak dari putri pertama sang 'guru bangsa' Siti Oetari ini, mengaku hanya mengenal sang kakek dari cerita buku sejarah dan kisah tutur dari keluarga.
"Saya tak bisa menceritakan secara pasti bagaimana sosok beliau, karena kakek saya itu meninggal jauh sebelum saya lahir," kata Harjono Sigit, yang juga mantan rektor Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS), saat ditemui usai acara sosialisasi film Guru Bangsa Tjokroaminoto di bekas kediaman sang guru bangsa, Jalan Peneleh 29-31, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (5/3).
Ayah kandung dari penyanyi Maia Estianty ini juga mengaku sangat senang ketika kisah perjalanan kakeknya difilmkan.
"Saya sangat senang karena (film Tjokroaminoto) merekonstruksi kembali sejarah yang mulai dilupakan. Sebenarnya, yang menginginkan (perjalanan Tjokroaminoto) ini difilmkan adalah Yayasan Keluarga Besar HOS Tjokroaminoto," tuturnya.
Harjono menilai, lunturnya pengetahuan sejarah perjuangan merebut Indonesia merdeka saat ini, karena wacana sejarah di sekolah-sekolah sudah tidak dianggap penting.
"Di sekolah-sekolah, pelajar dibentuk hanya untuk memikirkan soal Unas (ulangan nasional), bukan sejarah. Akar dari sejarah itu seperti apa, tidak banyak yang tahu, karena minimnya pembangunan wacana sejarah di sekolah-sekolah," nilai dia.
Terkait HOS Tjokroaminoto, yang merupakan guru dari KH Hasyim Asyaari, Soekarno, Tan Malaka, Semaoen, Alimin, Muso, Kartosuwiryo dan beberapa tokoh bangsa lainnya, Hajono mengatakan, di rumah nomor 29-31, Jalan Peneleh, Surabaya inilah, mereka ditempa pengetahuan soal politik kebangsaan oleh Mbah Tjokor (HOS Tjokroaminoto).
"Pendidikan politiknya ya di sini ini (rumah Mbah Tjokro). Mereka didik eyang (Mbah Tjokro). Saat itu belum ada pendidikan politik. Tapi Tjokroaminoto lebih dulu membangun konsep-konsep kenegaraannya yang kemudian diajarkan kepada murid-muridnya," papar dia.
Kembali Harjono menceritakan, kisah Mbah Tjokro yang diketahuinya dari kisah tutur keluarga dan buku-buku sejarah yang dibacanya. Mbah Tjokro lahir di Ponorogo pada 16 Agustus 1882 dari kalangan ningrat.
Ayah Tjokro adalah R.M. Tjokroamiseno anak mantan Bupati Ponorogo, R.M. Adipati Tjokronegoro. Karena hidup di lingkungan keluarga ningrat, oleh ayahnya, yang seorang pejabat pemerintahan di masa penjajahan Belanda, Tjokro kecil disekolahkan di sekolah Belanda.
Usai mengenyam pendidikannya, Tjokro dipekerjakan di perusahaan milik Belanda. "Saat menjadi pegawai orang Belanda inilah, jiwanya menjadi berontak. Dia ingin membebaskan bangsanya dari tirani penjajahan. Dia keluar dari pekerjaannya dan bekerja sebagai kuli panggul di pelabuhan yang ada di Semarang, Jawa Tengah. Eyang juga pernah menjadi wartawan," kata perancang salah satu pasar legendaris di Surabaya, Pasar Atom ini mengisahkan.
Selanjutnya, saat tinggal di Surabaya, 'Raja Tanpa Mahkota,' ini, tidak hanya mendirikan organisasi Sarekat Dagang Islam yang kemudian dikenal dengan Sarekat Islam, tapi juga menempa ilmu politik para siswanya, seperti Soekarno, Tan Malaka, Alimin, Semaoen, Muso dan lain sebagainya.
"Saat ini, tidak banyak anak muda yang mengenal sosok HOS Tjokroaminoto. Padahal dia adalah guru bangsa dari para pendiri negeri ini. Jadi kita sebagai keluarga besar sangat mendukung pembuatan film Guru Bangsa ini. Eyang adalah Raja Tanpa Mahkota, sosoknya yang sangat sederhana dan berbagi ilmu untuk membebaskan bangsa ini dari penjajahan," tandas Harjono.
Sekadar tahu, untuk mengugah kembali sejarah pra-kemerdekaan, artis senior Christine Hakim yang didukung artis-artis muda membuat film Guru Bangsa Tjokroaminoto, yang disutradarai Garin Nugroho.
Hari ini, mereka bertandang ke rumah HOS Tjokroaminoto yang saat ini ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemkot Surabaya, dan menggelar Kongres Pemuda untuk mensosialisasikan film tersebut di Balai Pemuda.
Di rumah bercat putih dan pintu warna hijau, yang dulu ditempati tokoh-tokoh nasional untuk berguru pada HOS Tjokroaminoto ini, pada dinding-dindingnya tertempel foto-foto tokoh nasional, buku-buku kuno peninggalan Mbah Tjokro serta meja-kursi kuno. (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya