Cuaca ekstrem, waspadai kemunculan ular pemangsa ternak warga
Merdeka.com - Intensitas kemunculan ular saat ini kian meningkat karena perubahan cuaca yang cenderung ekstrem. Ular-ular tersebut biasa muncul di tempat yang lembab, semak belukar, dan bangunan-bangunan kosong yang membuat keberadaan hewan melata tersebut nyaman.
Wakil Ketua Komunitas Semarangker, Slamet Wisnu Aji, beberapa ular berbisa terpantau muncul di semak belukar dan rumah kosong. "Kalau pas peralihan musim kemarau ke musim hujan, yang perlu diwaspadai adanya kemunculan ular gadung luwuk. Itu ular ekor merah yang punya gigitan berbisa. Jumlahnya sangat banyak terutama di Perumahan Bukit Kencana Tembalang dan BSB Mijen," ungkap Slamet, di markas Semarangker, Kampung Lamper Tengah, Semarang Selatan, Rabu (21/3).
Dalam beberapa hari terakhir, dia selalu menerima laporan adanya ular yang terlihat warga. Setelah pada Selasa (20/3) berhasil mengevakuasi ular sepanjang 2,5 meter, pada Rabu (21/3) siang dirinya dimintai tolong warga RT 03/RW V Jalan Sumbing.
"Ular ini sering memakan ternak warga dan munculnya pada malam hari," paparnya. Namun sayang, upaya Slamet menangkap ular tersebut gagal karena terlebih dahulu masuk ke semak belukar.
Ia mengimbau kepada warga agar tidak panik saat menghadapi kemunculan ular. Sebab, menurutnya ular hanya keluar dari sarangnya saat malam hari untuk berkembangbiak. Dia menyarankan kepada warga secepatnya melaporkan penemuan ular.
"Saya selalu bawa grapstik untuk menjinakan ular berbisa," cetusnya.
Slamet menuturkan aktivitasnya menjinakan ular sudah dilakukannya sejak kecil. Kemudian medio 2015 silam, ia ikut bergabung di Komunitas Pecinta Alam dan Satwa (Kapas) untuk mempelajari seluk-beluk penanganan ular berbagai jenis.
Sejak itulah, aktivitasnya selalu bersinggungan dengan hewan melata tersebut. Ia mengaku sudah ratusan kali mampu menangkap ular. Dari pengalamannya, dirinya mampu mengamankan 16 ekor hanya dalam dua malam. "Saya pernah menangkap piton sepanjang 6 meter yang saat itu melintas di jalan raya depan Akpol," ujarnya.
Ia pun memberi tips kepada warga supaya tidak panik saat menangkap ular. Jika ukurannya besar, seekor ular harus ditangkap pada bagian ekornya. "Kita mainkan dulu ekornya, kalau sudah mulai tenang baru tangkap kepalanya, ditutup lakban lalu dilepas lilitannya. Makanya, setiap kali beraksi, saya selalu bawa karung, lakban, grapstick. Satu lagi yang patut diperhatikan, kita sepatu sebagai pelindung kaki saat di semak belukar," imbuhnya.
Pamuji, Ketua Semarangkers menyebut saat ini anggotanya telah menyimpan empat piton dan seekor ular hijau untuk dijadikan alat sosialisasi bagi anak-anak sekolah. "Tetapi, ada pula ular yang diberikan ke kebun binatang dan ada yang disimpan sebagai alat edukasi bagi anak sekolah serta masyarakat sekitar," ujarnya.
(mdk/rzk)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya