Cerita Syaiful, Pemudik Pertama di Solo yang Selesai Karantina
Merdeka.com - Syaiful Qomar, seorang pemudik asal Jakarta selesai menjalani karantina di Graha Wisata Niaga, Sriwedari selama 14 hari. Warga RW 6, Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Banjarsari tersebut tercatat sebagai penghuni pertama rumah karantina khusus pemudik tersebut.
Wali Kota Solo F.X Hadi Rudyatmo (Rudy) menjemput langsung Syaiful yang sudah siap di Posko Covid-19 depan Graha Wisata Niaga, Selasa (21/4) kemarin. Sebelum diantar pulang, ia menjalani pemeriksaan kesehatan oleh tim medis di Posko Covid-19. Setelah dinyatakan sehat, baru kemudian diantar semobil dengan Wali Kota Solo.
Setiba di rumah, Syaiful disambut keluarga bersama sejumlah warga, Ketua RW, Ketua RT serta Lurah Banjarsari.
Syaiful mengatakan, pada awalnya dirinya tidak mengetahui jika Pemkot Solo mewajibkan semua pemudik ber-KTP Solo melakukan karantina selama 14 hari di Graha Wisata Niaga. Meski sempat kaget dan ragu-ragu, namun ia harus menerima keputusan tersebut demi kebaikan bersama.
"Awalnya ya kaget, deg-degan, saya kan orang pertama yang masuk di karantina," ujarnya.
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comNamun setelah beberapa hari dilalui, dia mengaku, jika dirinya merasa lebih nyaman. Karena pada awalnya ia sempat membayangkan hal-hal negatif. Namun pada akhirnya justru mendapatkan banyak teman sesama pemudik yang dikarantina.
"Sebelum pulang tim medis bilang, selama seminggu jangan keluar rumah dulu. Pokoknya harus di dalam rumah dulu," katanya.
Wali Kota Solo F.X Hadi mengaku, sengaja mengantarkan Syaiful ke rumah keluarganya. Hal tersebut agar warga atau tetangga tidak mengucilkan yang bersangkutan. Apalagi stigma pemudik yang dikarantina di Graha Wisata tersebut merupakan orang dalam pemantauan (ODP).
"Ini bentuk tanggung jawab pemerintah kepada masyarakat, bahwa yang dikarantina di Graha Wisata Niaga itu sudah distigma orang dalam pemantauan. Sehingga ODP itu setelah diperiksa, dikarantina selama 14 hari itu, selesai dikembalikan dengan kondisi yang sehat," terangnya.
"Sehingga warga masyarakat tidak mengucilkan, tidak boleh mas Syaiful dikucilkan karena tidak terpapar Virus Corona. Kalau ada ODP yang terpapar itu tempatnya berbeda," tambah Rudy.
Pemkot Solo menyediakan tempat karantina bagi warga yang tidak bergejala di Graha Wisata Niaga. Selama 14 hari mereka diperiksa kesehatannya oleh tim medis. Jika tidak mengalami gejala dan sehat mereka dikembali kepada keluarga. Sedangkan ODP bergejala ditempatkan di Ndalem Joyokusuman, Kelurahan Gajahan.
"Kalau kondisinya tidak menunjukkan perkembangan yang baik, akan dirujuk di rumah sakit," jelasnya.
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Solo, Ahyani meminta masyarakat untuk tidak mengucilkan jika di wilayahnya ada warga berstatus ODP.
"Masyarakat harus diberikan pengertian kalau sampai ada warga ODP di wilayahnya, jangan terus disingkirkan atau dikucilkan," terangnya.
Jika ada warga ODP dikucilkan di wilayahnya, dikatakan Ahyani, justru akan membuat mereka merasa tidak nyaman saat menjalani karantina mandiri. Untuk itu ia mengajak masyarakat bersama-sama menciptakan situasi dan kondisi di wilayahnya masing-masing dalam memutus rantai penularan virus corona atau Covid-19.
(mdk/fik)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya