Cerita penggalian mayat diduga PKI dari dalam sumur tua di Jembrana
Merdeka.com - Sudah sejak lama Nengah Astika, warga Desa Tegal Badeng Timur, Kecamatan Negara, Jembrana, Bali selalu bermimpi buruk. Bibinya yang juga tinggal dengan Astika, sering mengalami sakit-sakitan. Dilanda kekhawatiran itu, dia menemui dukun untuk minta penerawangan. Astika terkejut mendengar perkataan dari sang dukun yang menyebutkan kejanggalan di dalam sumur tua yang berada di pekarangan kebun miliknya.
"Dari penerawangan orang pintar itu disebutkan di kebun saya katanya ada sumur tua yang sudah diurug dan di dalamnya katanya ada mayat zaman G30S dulu," ujar Astika, Senin (29/5).
Dukun itu menyarankan agar dilakukan penggalian untuk memindahkan tulang belulang mayat ke setra atau kuburan serta dilakukan prosesi ngaben (semacam kremasi). Astika juga diminta melakukan pecaruan atau semacam upacara pembersihan di sekitar kebun.
Sebagian warga mengaku kerap diganggu makhluk halus saat melintas di kebun milik Astika. Konon ada yang mendengar suara seperti orang memanggil. Ada pula yang mengaku melihat sosok pria penuh darah di kepalanya.

Berangkat dari rasa penasarannya dengan perkataan si dukun, Astika mencari informasi dari sesepuh kampungnya yang mengetahui peristiwa Gerakan 30 September di Desa Degal Badeng Timur. Sebagian besar sesepuh membenarkan bahwa di kebunnya itu ada sumur dan pernah ada mayat eks anggota PKI yang dibuang di dalam sumur tersebut. Dari situ dia mengetahui nama Ketut Wandra, yang jasadnya disebut-sebut dibuang ke dalam sumur tua tersebut.
Astika langsung menemui keluarga Ketut Wandra. "Makanya waktu penggalian keluarga Ketut Wandra juga datang ke lokasi penggalian," imbuhnya.
Seorang tokoh spiritual dan pemangku adat ikut serta dalam proses penggalian. Saat akan dilakukan penggalian, ada warga yang berteriak histeris seperti orang kesurupan. Dewa Kade Mudiana, tokoh spiritual yang mengawal proses penggalian tersebut mengatakan, setelah tulang belulang ditemukan akan dilaksanakan upacara Pecaruan Nawa Gempang.

Banten caru Nawa Gempang ini menggunakan sarana 5 ekor ayam manca warna/manca sata, 1 ekor bebek bulu sikep dan 1 ekor bebek selem/hitam guna menetralisir kebun dari aura mistis.
"Kemudian tulang belulang dibakar di Setra (kuburan) setelah jadi abu dilarung dan dilakukan pecaruan," terang tokoh spiritual asal Desa Yeh Kuning, Jembrana ini.
Tujuannya agar arwahnya mendapatkan tempat yang lebih layak dan tidak lagi berada di kebun tersebut. Prosesi upacara yang dilakukan sama seperti upacara pengabenan.
"Prosesi upacara itu nanti akan dilakukan oleh pihak keluarga tulang belulang itu. Sedangkan pemilik kebun hanya melakukan prosesi pecaruan di kebunnya," tutupnya.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya