Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Cerita Pemulung di Garut Terdampak Covid-19, Dapat Bantuan Tetapi Dipotong

Cerita Pemulung di Garut Terdampak Covid-19, Dapat Bantuan Tetapi Dipotong Engkos. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Namanya Engkos, usia 67 tahun, warga Desa Sukahati, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut. Dia adalah seorang pemulung di kawasan perkotaan Garut. Dulunya merupakan bos di tempat pengecetan mobil di kawasan Pasir Koja, Bandung.

Engkos bercerita bahwa sejak beberapa tahun lalu ia memilih beralih profesi menjadi pemulung. Alasannya sederhana, pusing kalau harus menghadapi pelanggan yang rewel. Sekarang, meski harus menjadi pemulung ia merasa bebas tidak terkekang. Walau penghasilannya sedikit, tetapi kepalanya tidak akan pusing. Menjadi pemulung saat ini bukan hal yang mudah bagi Engkos.

"Saingannya sekarang banyak. Dulu mah pemulung di Garut sedikit. Sejak beberapa tahun kemarin, jumlah pemulung di Garut bertambah banyak," kata ayah yang memiliki empat anak ini saat ditemui di kawasan Pengkolan, Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jumat (17/7).

Kondisi pandemi Covid-19 saat ini pun menjadikan penghasilannya kian menyedikit. Ia menyebut bahwa kalau sebelum pandemi terjadi bisa membawa uang Rp70 ribu ke rumah, sekarang paling banyak hanya Rp 40 ribu saja. Itu pun kebanyakan di bawah Rp40 ribu.

"Harga pembelian barang memang mengalami penurunan. Sebelum masa corona, sekilo barang yang saya bawa bisa Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu. Kalau sekarang, sekilonya Rp 12.200 saja. Satu karung yang saya bawa paking banyak bisa bawa 2,5 kilogram. Sehari paling banyak bisa dapat 3 karung saja," jelasnya.

Ia mengaku bahwa dalam seminggu ia hanya melakukan kegiatan memulung di hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Berangkat mulai pagi, pulang subuh. Seperti hari ini, ia berjalan kaki dari rumahnya mulai pukul 08.00, sampai di kawasan perkotaan sekitar pukul 11.00.

Saat berangkat kondisi jalanan menurun, jadinya tidak terlalu menguras energi. Sepanjang perjalannya, ia berjalan kaki sambil mencari barang-barang yang bisa dipungut untuk dijual.

"Kalau pulang jalannya nanjak. Jadi bisa 8 jam dari kota untuk sampai ke rumah di Cilawu. Itu juga sambil mencari barang di sekitar jalan," ucapnya.

Diakui Engkos, pandemi Covid-19 sangat terasa dampaknya bagi dia. Apalagi, di rumah ia tinggal bersama istrinya yang sekarang sudah berusia 78 tahun dan tidak bekerja. Keempat anaknya tinggal jauh dari rumahnya. Mulai di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut hingga yang tinggal di Bandung. Semuanya sudah menikah.

Selama pandemi ini, Engkos mengaku mendapatkan bantuan dari pemerintah. Tetapi setiap bantuan yang diterimanya selalu mendapatkan potongan. Ia tidak mengetahui siapa yang memotongnya. Namun kartu penerima bantuan ia tidak pernah memegangnya, karena diharuskan disimpan di desa.

"Kalau di tempat saya memang hampir semua yang dapat bantuan kena potongan. Khususnya bantuan uang. Potongan ada yang Rp50 ribu. Kalau bantuan pangan saya enggak tahu, ada potongan atau enggak," ungkapnya.

Walau hasil dari memulung tidak besar, Engkos mengaku enggan kembali menjadi tukang cat mobil dengan penghasilan yang cukup besar.

"Walau jadi pemulung cape jalan kaki, tetapi kan olahraga. Kalau jadi tukang cat, walau jadi bos dan cuma tinggal mengarahkan saja, kepala pusing. Banyak ini itu," katanya.

Meski begitu, orang-orang yang sudah mengenalnya tidak jarang meminta Engkos untuk mengecat kendaraannya. Namun tawaran tersebut langsung ditolaknya. Ia mengaku kepada mereka bahwa dia sudah pensiun dari dunia cat kendaraan. Ilmu mengecatnya sudah diturunkan kepada anaknya, dan beberapa orang lain yang berguru kepadanya.

Kini, Engkos lebih memilih berkeliling mencari bahan yang bisa dijual kepada pengepul. Menyusuri kawasan perkotaan Garut, mulai Jalan Cimanuk, Ahmad Yani, Siliwangi, Papandayan, Bratayuda, dan beberapa jalan lainnya. (mdk/eko)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP