Cerita nenek Yatim 23 tahun jadi pemulung di Bali
Merdeka.com - Usianya 67 tahun. Hari-harinya, ia habiskan mengais sampah botol plastik maupun botol gelas dan kaleng. Nenek Yatim tak patah semangat menghadapi hidup yang begitu keras.
"Saya sudah 23 tahun menjadi pemulung," ucapnya, sambil duduk di atas bangku plastik, dan memilah botol-botol plastik yang berada di dalam karung, Minggu (29/7).
Nenek Yatim, tinggal di sebuah bedek sederhana di Jalan Dewi Sri, Legian, Kecamata Kuta, Badung, Bali. Dalam bedek di pinggiran sungai Tukad Mati Badung, Bali, ia sudah bertahun-tahun hidup seorang diri tanpa sanak keluarga. Dalam bedeknya hanya ada alas kain tanpa kasur dan perabotan memasak yang berkumpul dengan botol-botol bekas hasil memulungnya.
"Cuma ada alas saja, saya tidak punya kasur. Iya belum punya uang untuk beli. Buat makan saja susah," tuturnya sambil tertawa, seolah-olah hal itu sudah biasa.
Nenek Yatim kemudian memulai kisah hidupnya. Dia tak mengingat jelas nama desanya yang berada di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
"Saya dari Bondowoso rumah saya di timurnya terminal Kota," ucapnya, ketika ditanya di mana desanya.
"Saya merantau ke Bali setelah suami saya wafat. Saya lupa tahun berapa. Tapi waktu saya hidup berumah tangga 9 tahun lamanya lalu suami saya wafat karena sakit," imbuhnya.
Dari pernikahan 9 tahun lamanya, Nenek Yatim tak mendapatkan seorang anak. Selain itu, Nenek Yatim mengungkap bahwa dirinya sudah ditinggal ayahnya sejak di dalam kandungan.
"Kata ibu, saya ditinggal ayah ketika dalam kandungan waktu berumur 3 bulan. Ibu saya di desa hanya petani yang menggarap sawah orang," ungkapnya.
Semenjak ditinggal wafat suaminya, Nenek Yatim memberanikan diri merantau ke Bali. Hal itu, dilakukan agar tak menjadi beban hidup Ibunya. Dalam perantauannya ke Bali, Nenek Yatim ikut dengan seorang kenalannya yang bernama Bapak Sukri bersama 21 orang buruh proyek lainnya yang ia tak kenal, dan kemudian bekerja proyek di Bali.
"Selama dua tahun saya kerja di proyek bangunan menjadi tukang angkut pasir. Namun di tahun yang ketiga mandor saya lari entah kemana. Akhirnya 21 orang itu tidak dapat gaji, waktu itu saya kelaparan tidak punya uang sama sekali sampai makan kulit semangka," ujarnya.
Namun di sela-sela kesulitan hidupnya, Nenek Yatim bertemu dengan Bapak H. Shaleh yang kemudian mengajaknya bekerja sebagai pemulung dan menempati kamar bedeknya yang ia bayar Rp 200 ribu perbulan.
Semenjak itu, Nenek Yatim terus bekerja menjadi pemulung karena tak ada pilihan untuk bekerjan lainnya. Nenek Yatim tak mempunyai ijazah karena dalam hidupnya tak pernah mengenyam bangku sekolah.
"Iya setiap hari saya cari botol-botol ini hanya di sekitar wilayah sini saja. Berangkat jam 9 pagi dan pulang jam 5 sore. Kalau jauh-jauh saya tidak berani hanya mencari botol di pinggir jalan saja. Kalau masuk gang-gang (Kampung) saya tidak berani takut dikira maling," katanya sambil terkekeh.
Saban hari dengan sekantong karung besar sambil berjalan kaki, Nenek Yatim menelusuri jalan raya mencari botol-botol bekas di tempat-tempat sampah di sekitaran Jalan Dewi Sri Legian. Ia tak mempunyai gerobak maupun sepeda engkol karena tak ada biaya untuk membuat gerobak atau membeli sepeda.
Nenek Yatim juga berkeluh kesah, tentang lelahnya berjalan kaki sambil memikul hasil botol bekasnya di pundak saat teriknya panas matahari. Selain itu, dari hasil memulung botol-botol bekas hanya cukup buat makan sehari-hari dan membayar indekos bedeknya.
"Kalau saya jualnya 15 hari sekali ke pengepul (Bapak Haji Shaleh). Karena saya kumpulin dulu, kalau sudah banyak saya baru jual. Dalam 15 hari itu, saya bisa dapat uang Rp 500 ribu. Iya tidak cukup kalau buat hidup sehari-hari, mana buat makan dan bayar kos dan lainnya," ujarnya.
Nenek Yatim juga menjelaskan, berapa harga botolnya yang dijual perkilo gramnya itu. Kalau plastik gelas minuman mineral perkilo gramnya Rp 2.500, botol plastik Rp 2.000 per kilo gram, botol kaca seperti merek bir per satu botolnya senilai Rp 9.000. Untuk minuman kaleng perbijinya jika ukuran kecil seharga Rp 250 dan ukuran besar Rp 500. Kalau kardus bekas perbijinya seharga Rp 1.000 rupiah.
"Sekarang lagi turun harganya jadinya murah, saya dalam 2 hari baru bisa mendapatkan satu karung besar," keluh Nenek Yatim.
Dalam usianya yang sudah senja ia mengaku ingin sekali pulang ke desanya. Sudah puluhan tahun dia tidak pernah pulang karena terkendala biaya.
"Di Bali saya tidak punya keluarga dan saudara, saya sudah lama tidak pernah pulang karena tidak punya uang," tutupnya, dengan senyum tawar sambil menundukkan kepala dan melanjutkan memilah botol bekas yang didapatnya.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya