Cerita korban bom depan Kedubes Australia bertahan hidup
Merdeka.com - Aksi terorisme yang terjadi di Indonesia meninggalkan luka mendalam bagi para korban dan keluarganya. Ratusan nyawa melayang. Ribuan korban mengalami cacat seumur hidup.
Korban bom di depan Kedutaan Besar Australia, Iwan Setiawan menceritakan perjuangan hidupnya pasca-kejadian tersebut. Iwan harus kehilangan istri dan mata kanannya akibat teror 9 September 2004 lalu. Tidak hanya itu, Iwan juga kehilangan pekerjaannya sebagai pegawai bank.
Saat bom meletus tulang punggung keluarga itu sedang mengendarai sepeda motor untuk mengantar istrinya yang hamil 8 bulan ke dokter kandungan. Dua tahun setelah kejadian istri Iwan meninggal dunia karena menderita luka dalam.
Berjalan waktu, Iwan mulai bisa berdamai dengan tidak memendam rasa dendam. Untuk itu, dia tidak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan baru.
"Kalau mereka menebarkan api, kita harus menebarkan air. Mereka (mantan napiter) juga manusia yang punya rasa salah. Mungkin waktu itu mereka khilaf. Kalau mereka minta maaf, saya maafkan," kata Iwan, Jumat (9/3).
Kini, dengan keterbatasan fisiknya Iwan mengandalkan hidup dengan membuka usaha jual beli dan servis komputer dengan label 'bom-bom komputer' di Pondok Cina, Depok.
Korban bom Bali 1, Chusnul Chotimah kini cacat seumur hidup. Muka dan sekujur badannya mengalami luka bakar akibat teror tersebut. Meski sudah menjalani operasi plastik, kondisi tubuhnya tetap tidak bisa kembali seperti semula.
"Mungkin ini sudah takdir dari Allah SWT. Saya harus memaafkan mereka. Allah saja maha pemaaf, masak saya tidak memberi maaf. Untuk apa kita dendam," ungkap Chusnul.
Chusnul mengaku sempat dendam kesumat dengan para pelaku. Namun perlahan dia mengaku berusaha belajar ikhlas. Kini, ia merasa lebih lega dan ingin menjalani hidup lebih tenang, disamping berharap tidak ada lagi aksi-aksi terorisme.
"Dari air kita belajar ketenangan. Dari batu kita belajar kekuatan, dari tanah kita belajar kehidupan dari kekerasan kita belajar hidup cinta damai. Maka cukuplah jangan ada lagi teror di negara kita. Mari kita jaga keutuhan NKRI tercinta ini," pesannya.
Ali Fauzi, terpidana bom Bali 1, mengaku banyak orang sepertinya ingin bisa kembali ke masyarakat. Salah satu keinginannya adalah bersekolah. Sebab, setelah keluar dari penjara, masyarakat memandangnya rendah.
"Saya bisa kemarin jadi ulat ada proses metamorfosis saya dianggap kemudian mampu jadi kepompong, jadi kupu-kupu dan anak kita semua tak takut sama kupu-kupu karenanya harapan saya daur ulang ini terus dilakukan terus diulang," ujarnya di hadapan para menteri yang hadir.
Dia juga meminta kepada Menteri Ketenagakerjaan Hanafi Dhakiri agar diberikan pelatihan untuk para mantan narapidana, terutama yang berada di Yayasan Lingkar Perdamaian, Lamongan. Menurutnya, para mantan teroris itu tak butuh uang tunai, tetapi mereka ingin mendapatkan kemampuan agar bisa kembali ke masyarakat.
"Kami tak ingin setiap hari mendapatkan ikan berilah kami kail dan jala, kami bisa ambil ikan itu sendiri," ujarnya.
Seperti diketahui, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai kepanjangan tangan pemerintah, telah mempertemukan penyintas dan mantan napi terorisme (napiter) dalam sebuah kegiatan Silaturahmi Kebangsaan (Satukan) NKRI) akhir Februari lalu. Kegiatan ini adalah yang pertama kali.
Dalam acara ini penyintas dan napiter berhasil menjalin silaturahmi, bahkan saling memaafkan. Para penyintas yang terdiri dari korban bom Bali, Marriot, Kedubes Australia, Thamrin.
"Kegiatan ini merupakan silaturahmi, saling memahami satu sama lain untuk tebarkan perdamaian. Mengingat momen ini agar mantan pelaku teror dan penyintas dapat menyampaikan aspirasi kepada pemerintah dan DPR untuk menyempurnakan RUU Terorisme," kata Kepala BNPT, Komjen Suhardi Alius.
(mdk/did)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya