Cerita kocak warga ditangkap gara-gara dikira teroris
Merdeka.com - Aksi teror yang terjadi di kawasan Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat pada Kamis (14/1) kemarin menarik perhatian publik bahkan hingga ke level dunia. Hal ini dikarenakan insiden berbahaya ini dipastikan terkait dengan jaringan Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan kelompok bersenjata Santoso yang masih bersarang di Sulawesi Tengah.
Dalam insiden berdarah tersebut, total korban berjumlah 31 orang dengan rincian korban tewas berjumlah 7 orang dan korban cidera berjumlah 24 orang.
Di luar peristiwa ini, sejumlah warga sempat ditangkap dan interogasi karena dikira teroris. Berikut ulasannya:
Anak kesal dan sebut orangtua teroris lalu lapor ke polisi
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSatu hari pascateror di Sarinah, Jakarta Pusat, tiga orang warga Depok, Jawa Barat menjadi korban salah tangkap karena diduga terlibat terorisme. Hal ini bermula saat warga yang diduga sakit hati melapor kepada kepolisian Depok. Lia, istri orang yang dikira teroris, Isra, sempat tak sadarkan diri ketika suaminya dijemput polisi, Jumat (15/1) dini hari di rumahnya di Pondok Terong, Depok, Jawa Barat. Beruntung Lia tak lama kemudian langsung sadar."Sempat enggak sadar. Saat itu ada anak saya yang masih usia enam tahun juga," kata Isra.Dalam rumah itu, Isra tinggal bersama keluarganya. Ada Muhammad, bapak Isra, dan dua kakaknya, Saipul serta Sudirmansyah. "Memang satu rumah kami tinggal," ujar Isra.Mereka mengaku mendengar suara ledakan sebelum akhirnya polisi masuk ke dalam rumah. Kemudian, ketiganya diminta angkat tangan lalu tiarap dan tangan diborgol. "Kita sempat tanya tapi kata polisi nanti dijelaskan. Ya kami ikut saja," ucap Isra.Isra dan dua kakaknya dibawa polisi setelah Lia siuman. Lia kemudian membawa anaknya dan bapak mertuanya ke dalam kamar. "Anak saya cuma bengong saja. Mungkin dia berpikir bapaknya ini penjahat," lanjut Isra.Walau masih syok dan trauma, Isra tetap berusaha tegar. Dia hanya berharap keluarga dan lingkungan tidak terpengaruh pemberitaan yang ramai beredar. Sebab kabarnya penangkapan dia dan kedua kakaknya lantaran laporan palsu.Sementara Kapolresta Depok Kombes Pol Dwiyono mengatakan penangkapan ketiganya tidak terkait dengan tindakan terorisme. "Bukan (teroris). Mereka bukan teroris," katanya.Lanjut Dwiyono, ketiganya merupakan korban pengancaman. "Pengancaman," tegasnya.
Dikira teroris, pencari kerja kaget bangun tidur dikepung petugas
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comBoy Hutagalung tidak menyangka dirinya bakal ditangkap dan berurusan dengan penjinak bom dari Brimob Polda Riau Jumat (15/1), sekitar pukul 10.00 WIB. Pria berusia 28 tahun itu datang dari Medan Sumatera Utara, mencari kerja di Pekanbaru, dan disangka teroris saat tidur di bawah flyover Sudirman Pekanbaru.Pemuda bertubuh kurus yang pernah bekerja sebagai penjaga warnet di kampung halamannya itu kaget ketika bangun tidur melihat tim penjinak bom, Gegana dan puluhan Brimob Polda Riau bersenjata lengkap sudah berada di sekelilingnya."Dia (Boy) langsung diamankan petugas dari Brimob, karena gerak geriknya mencurigakan sejak pagi tadi," ujar Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo kepada merdeka.com.Tas ransel milik Boy yang awalnya dikhawatirkan berisi bom itu, diamankan jinak bom dan Gegana. Sedangkan Boy dikawal ketat saat digelandang ke Mapolresta Pekanbaru. Namun lucunya, setelah diperiksa oleh tim Gegana Polda Riau ternyata tidak ada ditemukan bom dalam tas ransel hitam miliknya."Isi tas itu hanya beberapa helai pakaian, alat-alat tulis dan satu unit powerbank," kata Guntur.Boy berada di Kota Pekanbaru sejak 14 Desember 2015 lalu. Pria pengangguran yang pernah bekerja sebagai penjaga warnet tersebut datang ke Pekanbaru dengan bus berniat merantau untuk mencari pekerjaan."Yang bersangkutan (Boy) ke Pekanbaru berniat untuk mencari kerja. Kita masih memeriksa dan memintai keterangan terhadap yang bersangkutan," ucap Guntur.Guntur menceritakan, awal mula penangkapan ini, pada Jumat pagi sekitar pukul 06.30 wib, Boy berjalan kaki melintasi depan pagar rumah dinas Kapolda Riau Brigjen Pol Dolly Bambang Hermawan dengan menggunakan topi.Yang bikin petugas curiga, Boy menggendong tas ransel, serta menutupi mulut dan sebagian wajahnya dengan sapu tangan."Pria itu (Boy) melintas depan pagar rumah dinas Kapolda sambil bawa tas ransel. Karena mencurigakan, anggota Polisi lalu lintas yang berada di sekitaran rumah bapak Kapolda itu pun memanggilnya," jelas Guntur.Melihat polisi memangilnya, Boy ketakutan dan langsung bergegas dengan memperkencang langkah kakinya. Dia tidak tahu mau ke mana, yang ada dalam pikiran Boy saat itu menghindari polisi yang memanggilnya."Lalu Polantas itu melaporkan hal itu ke Brimob yang berjaga. Anggota brimob itu pun langsung mencari, dan berhasil menemukan Boy tidur di bawah Flyover Sudirman," kata Guntur.Selanjutnya, Brimob Polda Riau pun mengamankan pria tersebut ke Mapolresta Pekanbaru, sedangkan Tim Jinak Bom dan Gegana mengevakuasi tas ransel hitam milik Boy dengan sangat hati-hati karena khawatir meledak.Selanjutnya, tas ransel warna hitam milik Boy dibawa ke Mako Brimobda Polda Riau untuk diperiksa. Dan ternyata tidak ditemukan bom, isinya hanya pakaian dan alat tulis serta powerbank."Yang bersangkutan (Boy) saat ini masih di Mapolresta Pekanbaru, guna dimintai keterangannya. Jika tidak ditemukan indikasi perbuatan yang melanggar hukum, dia akan dilepaskan," pungkas Guntur.Petugas Gegana sudah melakukan penyisiran di sepanjang Flyover Jalan Jenderal Sudirman. Lokasi ini juga sudah disterilkan, dan pengguna jalan yang sebelumnya dihentikan sudah bisa melintas. Namun terlihat sejumlah petugas masih hilir mudik berpatroli di jantung kota Pekanbaru itu.
Mobil bernopol D 1515 IS ditahan karena diduga terlibat ISIS
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comPacsateror di Sarinah, seluruh kawasan di Indonesia dijaga ketat. Hal-hal yang mencurigakan tak dibiarkan begitu saja. Namun uniknya, minibus jenis APV nopol D 1515 IS di Bandung sempat membuat geger. Mobil bernopol D 1515 IS dicurigai terkait ISIS.Polres Bandung yang menggelar razia kendaraan di wilayah hukumnya langsung memberhentikan mobil yang mencurigakan tersebut. "Ya, razia kita lakukan kemarin usai kejadian (bom Jakarta). Nah kita curigai mobil APV yang sedang melaju dengan nopol D 1515 IS, akhirnya diberhentikan," kata Kapolres Bandung AKBP Erwin Kurniawan kepada merdeka.com, Jumat (15/1).Asep, sopir yang membawa mobil warna merah maroon itu juga tidak bisa menunjukan surat kendaraan. "Asep ini enggak bisa tunjukan surat-surat kita bawa langsung ke Mapolres Bandung," ungkapnya. Penuturan Asep, pada polisi, bahwa kendaraan itu bukan miliknya karena hanya sebatas kepentingan mengantar barang.Asep pun tidak bisa pulang sampai si pemilik kendaraan tersebut mendatangi Mapolres Bandung untuk memberikan penjelasan. "Akhirnya tadi sekitar pukul setengah satu (12.30 WIB) si pemilik datang ke lokasi dan membawa surat-surat lengkap," terangnya."Itu tidak sengaja saja (nopolnya). Karena tidak ada pelanggaran dan dicek juga tidak ada yang mencurigakan dari barang-barangnya akhirnya kita lepas," tandas Erwin Kurniawan.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya