Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Cerita kekisruhan pilpres di TPS Hong Kong

Cerita kekisruhan pilpres di TPS Hong Kong Pencoblosan di Hong Kong ricuh. ©2014 Istimewa/Fera Nuraini

Merdeka.com - Digelarnya pemilihan presiden di luar negeri masih menyisakan masalah, seperti yang terjadi di Victory Park, Hong Kong. Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang bertambah dibandingkan pada saat pemilihan legislatif lalu tidak diantisipasi dengan baik oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), PPLN dan Bawaslu sebagai panitia Pilpres.

Panitia tersebut dianggap tidak mampu melobi, tempat penyelenggara yang hanya bisa memberikan waktu pemilihan presiden sampai pukul 17.00 waktu setempat. Sehingga ada ratusan Warga Negara Indonesia (WNI) dari 32 ribu DPT gagal menyalurkan aspirasinya.

Padahal para WNI tersebut telah mengantre di 13 Tempat Pemilihan Umum (TPU) Victory Park sejak pukul 07.00 waktu setempat.

Berikut ini cerita kisruh pilpres di TPS Hong Kong yang dirangkum merdeka.com:

Ditutup saat antrean ramai

antrean ramai rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Niat para WNI di Hong Kong untuk menyalurkan aspirasinya dalam pilpres terhalang dengan adanya batasan waktu yang diberikan Pemerintah Hong Kong kepada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), PPLN dan Bawaslu sebagai panitia Pilpres. Sehingga, pemungutan suara hanya bisa berlangsung sampai pukul 17.00 waktu setempat."Jam 5 sore TPS sudah ditutup dan yang antre di bagian belakang tidak tahu kalau TPS sudah tutup. Akhirnya jam 05.15 sore, 500 lebih WNI membuka paksa pagar pintu masuk TPS," ujar salah seorang WNI, Fera Nuraini kepada merdeka.com, Minggu (6/7).Lanjut Fera, ratusan WNI tersebut pun sempat meminta kepada panitia untuk membuka TPS kembali. Namun usaha mereka berakhir sia-sia."Mereka tetap tidak diijinkan untuk mencoblos. Mereka kecewa, mereka marah bahkan ada yang menangis. 'Kenapa gak bisa nyoblos? Buka! kami ingin nyoblos,' teriak mereka," kata Fera seraya menirukan suara ratusan WNI tersebut.

Massa jebol pagar pembatas

pagar pembatas rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Ratusan WNI mulai resah menjelang terbenamnya matahari di Victory Park, Hong Kong, mereka berteriak lantang kepada panitia agar membukakan pagar besi setinggi sekitar 1 meter. Namun, usaha mereka tidak di gubris oleh pihak panitia yang hanya mengawasi mereka dari dekat.Akibatnya, massa pun semakin gerah dan tersulut emosinya, sehingga membuat mereka kehabisan kesabaran dan kemudian mendorong-dorong, menendang pagar pembatas bahkan ada yang melompat pagar.Bukan hanya itu, aksi dorong mendorong pun tak menghindarkan, satu sama lain para ratusan WNI itu juga berebut untuk masuk ke dalam TPS.Bahkan tidak sedikit dari mereka menyobek kertas DPT yang seharusnya mereka gunakan sebagai bukti bahwa mereka mempunyai hak suara dalam pilpres ini.

Pemilih menangis tak bisa nyoblos

tak bisa nyoblos rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Gagal menyalurkan hak suaranya dalam pilpres ini, membuat ratusan Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Hong Kong meneteskan air matanya. Mereka yang sangat antusias menunggu dan mengantri sejak pukul 07.00 waktu setempat harus menerima kenyataan tidak dapat ikut berpartisipasi dalam pesta rakyat tersebut.Cerita lain dalam aksi ini adalah saat melihat beberapa BMI menangis dan terlihat sangat sedih karena gagal menggunakan hak pilih untuk Capres idolanya. "5 tahun sekali dan saya gagal mencoblos karena sudah tutup padahal antri dari jam 3, bayangkan bagaimana sedihnya saya, mbak," curhat WNI asal Kediri yang sudah 6 tahun di Hong Kong, seperti dikutip dari Blog feranuraini.com.Di sisi lain Pilpres di Hong Kong tahun 2014 menjadi sejarah tersendiri karena untuk pertama kalinya dan satu-satunya ada TPS untuk pencoblosan bagi WNI yang di luar negeri.

Massa membludak

rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan Pemilu Presiden (Pilpres) di luar negeri berlangsung mulai tanggal 4 Juli dan berakhir 6 Juli. Namun, Pemilihan Presiden yang berlangsung di lapangan Victoria Park, Hong Kong berakhir ricuh."Izin lapangan hanya sampai jam 5 sore, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) sudah meminta perpanjangan waktu tapi tidak diberikan oleh pihak Victoria Park," ujar Fera kepada merdeka.com, Minggu (6/7).Lanjut Fera, ada sekitar 500 WNI dari 32 ribu Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang tidak bisa menyalurkan aspirasinya tersebut. Kemudian mereka meminta keterangan panitia dari KJRI, PPLN dan Bawaslu."Mereka menjawab tidak bisa berbuat apa-apa karena keputusan ada di KPU pusat bahwa pencoblosan hanya sampai jam 5 sore waktu Hong Kong.Sementara, dari data yang diperoleh di Kemlu, jumlah pemilih pada Pilpres 2014 mencapai 23.569. Jumlah ini meningkat tajam dibandingkan Pileg lalu sebanyak 18.177 orang.

(mdk/tyo)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP