Cerita jemaah haji Indonesia rasakan jeruji besi Arab Saudi
Merdeka.com - Maksud hati pergi ke Tanah Suci untuk berhaji, namun siapa sangka malah merasakan dinginnya penjara Arab Saudi. Musibah ini dialami dua jemaah haji asal Makassar, Muhammad Rasul Daeng Naba bin Laujeng (41) dan Abdul Rauf Nuraling Pattola bin H Nuraling (43). Keduanya sempat mendekam selama lima hari empat malam di penjara Shumaisy, Makkah. Penyebabnya lantaran disangka sebagai joki mencium hajar aswad.
"Kami ditempatkan dalam satu ruangan besar berisi 60 orang, sempat semalam tidur satu kasur berdua dengan orang Madura. Mimpi apa sudah bayar dan nunggu tujuh tahun tapi di sini dipenjara," ujar Abdul Rauf Nuraling di Kantor PPIH Arab Saudi Daker Makkah, Sabtu (24/9).
Selama di penjara, Abdul Rauf ditempatkan dalam satu ruangan bersama rekannya, Muhammad Rasul Daeng Naba. Sejak awal saat ditangkap di Masjidil Haram pada 19 September pukul 22.00 waktu Arab Saudi, mereka berkukuh tidak bersalah lantaran memang bukan joki. Namun lantaran komunikasi tak lancar dengan polisi Arab dan keduanya tidak dapat menunjukkan paspor, maka akhirnya ditahan.
"Di penjara pas hari ketiga sempat down waktu dapat informasi dari teman bahwa sektor dan daker angkat tangan mengurus kami," ujarnya.
Belakangan ternyata informasi tersebut tidak benar. Hanya saja lantaran kendala teknis prosesnya menjadi agak lama. Seperti proses pelaporan penangkapan dari pihak keluarga dan ketua kloter yang kurang cepat, sehingga keduanya keburu dibawa ke Shumaisy. Begitu juga dengan hari libur kemerdekaan pada Kamis lalu, libur weekend pada Jumat dan Sabtu.
"Alhamdulillah ternyata hasilnya memuaskan sekali, saya bersyukur sekali ternyata pengurus-pengurus jemaah haji Indonesia tak tinggal diam dan tak tinggalkan jemaah begitu saja, saya bersyukur," ujar Abdul Rauf usai menghirup udara bebas.
Sementara Muhammad Rasul menuturkan, selama di penjara mereka diperlakukan dengan baik. Sama sekali tidak ada kekerasan. "Alhamdulillah bagus, tidak ada sistem kekerasan. Alhamdulillah makan cukup," ucapnya.
Belajar dari musibah yang menimpanya, Muhammad Rasul mengaku ke depan akan lebih berhati-hati bila akan mencium hajar aswad. Dia juga menyadari bahwa ritual ini hanya sunnah, jika ada kelonggaran bisa dilakukan, namun apabila memberatkan tidak perlu dikerjakan.
"Saya ini sudah ada gambaran bagi saya kalau memang tidak mencium hajar aswad itu bukan kewajiban. Kalau ada kesempatan kita mencium ke sana, warga Indonesia, jangan dipaksakan karena kejadian di sana kebanyakan dia bilang kita joki," tutur pria yang berprofesi sebagai penjual ikan tersebut.
Muhammad Rasul Daeng Naba dan Abdul Rauf Nuraling Pattola berhasil dibebaskan pada Jumat 23 September 2016 pukul 22.47 waktu Arab Saudi.
"Alhamdulillah, berakhir manis. Tapi, mereka semua mengingatkan agar jemaah tidak memaksakan diri mencium Hajar Aswad," ujar Ketua PPIH Arab Saudi Ahmad Dumyati Bashori.
Sabtu sekira pukul 02.00 waktu Arab Saudi, petugas maktab 02 Aiman mengantarkan Muhammad Rasul Daeng Naba dan Abdul Rauf Nuraling Pattola ke kantor Daker Makkah, meski paspor keduanya masih berada di Shumaisy. Paspor akan diurus secepatnya oleh petugas maktab. Kini keduanya akan melakukan tawaf wada lalu menyusul rombongannya yang sudah terlebih dahulu bergerak ke Madinah.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya