Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Cerita difabel tunanetra aktif berorganisasi & jadi jurnalis kampus

Cerita difabel tunanetra aktif berorganisasi & jadi jurnalis kampus Ginanjar Rohmat. ©2015 merdeka.com

Merdeka.com - Hari difabel internasional yang diperingati setiap tanggal 3 Desember, barulah sebatas seremoni belaka. Faktanya, hak-hak para difabel untuk diberikan kesempatan berkembang belum terfasilitasi.

Itulah yang mendorong Ginanjar Rohmat seorang difabel tunanetra mahasiswa jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta menjadi seorang jurnalis kampus.

"Selama ini hari difabel masih seremonial. Nggak ada dampak signifikan terhadap para difabel," katanya pada merdeka.com, Rabu (2/12) malam.

Saat masuk ke perguruan tinggi, Ginanjar menyadari jika dirinya tidak mungkin bisa menyuarakan hak-haknya sendirian. Karena itu dia lebih memilih menulis sebagai alat perjuangan.

"Kalau saya teriak-teriak sendiri di depan kampus nanti dikira orang gila. Makanya saya pilih jadi jurnalis kampus di LPM Ekspresi untuk menyuarakan hak-hak saya dan teman-teman difabel lainnya di kampus," ujar mahasiswa angktan 2012 ini.

Dia pernah mengangkat tema difabel di bulletin Expedisi bersama-sama dengan jurnalis kampus lainnya yang tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ekspresi. Sayangnya, bulletin tersebut belum memberikan efek.

"Saya juga dengan teman-teman difabel lainnya pernah mengusulkan fasilitas layanan yang ramah difabel, tapi kita tahu birokrasi itu rumit. Pernah mengusulkan tanda brile di pintu-pintu kelas, sampai sekarang belum terealisasi," ungkap Ginanjar.

Menurutnya banyak fasilitas kampus yang belum ramah terhadap para difabel. Padahal hal tersebut bisa sangat membantu para difabel untuk beraktivitas.

"Misal jalan, untuk tunanetra kan ada khusus seperti yang di Malioboro ada tegel yang konturnya berbeda, pintu harusnya lebih lebar untuk pengguna kursi roda, tangga tidak curam, toilet juga harusnya di design sendiri yang ramah difabel," terangnya.

Dia pun berharap hari difabel tidak menjadi rutinitas perayaan yang semu. Dia tidak bermaksud meminta belas kasihan untuk mendapatkan haknya.

"Kami itu tidak butuh dikasihani. Beri kami kesempatan yang sama untuk berkembang, karena kami ini sama dengan orang-orang pada umum," tandasnya.

Selain menulis, Ginanjar juga aktif dalam berorganisasi. Dia menjadi ketua Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia cabang Gunungkidul.

"Saya sadar kalau kita perlu berorganisasi untuk berjuang. Saya ketua Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia di Gunungkidul, karena memang saya aslinya dari sana," ungkap Ginanjar.

Lewat organisasi itu dia dan teman-temannya mendorong wacana agar kebijakan pemerintah setempat berpihak pada difabel. Tidak hanya itu, menurutnya, kegiatan organisasi tidak sekadar untuk perjuangan tapi juga memberikan sumbangsih nyata pada masyarakat.

"Kemarin baru bikin bakti sosial. Kami ingin menunjukkan jika kami juga bisa berbagi dengan masyarakat," ujarnya.

Uniknya bakti sosial itu dilakukan tidak hanya memberikan bantuan, tapi juga jasa pijat gratis bagi warga di Turi, Sleman.

"Kalau tunanetra itu kebanyakan profesi tukang pijat. Ya kita sama-sama berikan pijat gratis ke warga," tambahnya.

Selain di Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia, Ginanjar juga bergabung dengan organisasi difabel lainnya. Hal itu dilakukan sebagai wujud partisipasi mendukung perjuangan para difabel lainnya.

"Saya melihat masih banyak orang yang memiliki cara pandang yang keliru terhadap difabel. Salah satu yang saya lakukan dengan teman-teman difabel lainnya adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat. Karena ada juga diskriminasi yang masih terjadi pada para difabel," kata Ginanjar.

Diskriminasi terhadap para difabel salah satunya di dunia pendidikan. Menurutnya SLB (Sekolah Luar Biasa) yang selama ini diperuntukkan bagi disabilitas tidak sama kualitasnya dengan sekolah umum.

"Guru saja misalnya, kalau di SLB itu guru yang mengajar belum tentu punya kompetensi di bidangnya. Kalau di sekolah umum, guru matematika ya orang yang latar belakang pendidikannya matematika. Di SLB guru matematika tapi pendidikannya psikologi. Ini kan nggak pas," pungkasnya.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP