Cerita demonstran soal kemunculan rokok kretek
Merdeka.com - Puluhan demonstran turun ke jalan memprotes peringatan Hari Anti-Tembakau sedunia yang jatuh hari ini, Kamis (31/5). Di sela-sela demo, seorang demonstran pun bercerita mengenai asal muasal rokok kretek yang ia sebut sebagai 'berkah' Tuhan.
Menurut Koordinator Komunitas Kretek Jakarta, Jibal Windiaz, kretek yang merupakan ciptaan asli orang Indonesia, banyak menghidupi rakyat Indonesia.
"Jadi ada pada akhir abad ke-18 itu, seorang yang namanya Haji Jamhari. Sebetulnya dia orang yang pada mulanya punya masalah dengan sakit dadanya," ujar Jibal saat ditemui di lokasi unjuk rasa, di depan Kedubes AS, Jakarta, Kamis (31/5).
Awalnya, kata Jibal, Haji Jamhari yang juga seorang perokok memang mengandalkan minyak cengkeh yang mengandung zat aspirin.
"Nah minyak cengkeh itu kemudian dia oleskan. Lalu untuk melengkapi, dia komposisikan cengkeh kedalam tembakau, dan itu terbukti mujarab untuk memberi kesembuhan pada sesak dadanya, dan tersiarlah dia dikenal," terangnya.
Setelah Haji Jamhari, jelas Jibal, perkembangan rokok kretek dilanjutkan oleh Niti Semito, yang kemudian mengindustrialisasikannya.
"Dia orang kedua setelah Haji Jamhari, yang mengindustrialisasi kretek, yang kemudian dikenal Cap Bal 3, Jambu Bol dan sebagainya, yang kalau anak-anak sekarang bilangnya rokok 'jadul'," ucapnya.
Namun baginya, justru rokok-rokok yang terbilang 'jadul' tersebut merupakan rokok yang memang bisa menjaga sektor ekonomi sebagian rakyat Indonesia daerah-daerah tertentu.
"Tapi yang perlu diketahui, rokok-rokok jadul, terbukti tangguh menjaga sektor pendapatan kita, kehidupan masyarakat kita. Kalau mau lihat kita ke Kudus, Kediri atau Temanggung, itu banyak orang yang dihidupi dari sektor itu dan di Temanggung itu, kualitas nikotinnya tinggi, dan kualitasnya bagus," tandasnya. (mdk/ren)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya