Buru Bahrun Naim, kontrakan di Sukoharjo disatroni polisi
Merdeka.com - Meski dikabarkan berada di Suriah, namun Polres Sukoharjo tetap memburu keberadaan Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo alias Abu Rayan (32) di wilayahnya. Sebab, pria yang disebut-sebut sebagai otak teror di kawasan Thamrin, Jakarta, tersebut pernah berdomisili di beberapa tempat di Sukoharjo.
Kapolres Sukoharjo, AKBP Andy Rifai mengatakan, pihaknya sudah melacak keberadaan Bahrun Naim di Desa Gonilan dan lokasi lainnya. Di tempat tersebut, kata dia, Bahrun Naim pernah tinggal atau mengontrak. Namun hasilnya nihil.
"Selain mendatangi tempat kos dan kontrakan, kami juga telah mengecek ke kantor Imigrasi. Dari keterangan yang diterima petugas Imigrasi, Bahrun Naim bersama anak istrinya telah meninggalkan Indonesia awal Tahun 2015 dan berada di Suriah," ujar Andy, Sabtu (16/1).
Sebelumnya, Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Tito Karnavian mengatakan, Bahrun Naim sebagai sosok yang bertanggung jawab atas serangkaian teror di kawasan Sarinah, Jakarta. Lelaki yang dilaporkan hilang sejak 2015 ini diyakini bergabung dengan ISIS dan bersembunyi di ibu kota Raqqa, Suriah.
"Naim pernah ditangkap 2010, tapi kemudian 2014 dia ditangkap, ditahan kasus peluru, setelah itu dia berangkat ke Suriah dan gabung di Raqqa," kata Tito di Istana Negara, Jakarta, Kamis (14/1).
Saat itu, Bahrun ditangkap polisi karena disinyalir terkait dengan kelompok teror di Indonesia. Namun bukti-bukti yang didapatkan membuatnya lepas dari jeratan tindak pidana terorisme dan dihukum karena kepemilikan senjata ilegal.
Majelis hakim saat itu menjatuhkan vonis 2,5 tahun penjara terhadap Bahrun. Namun, beberapa tahun berikutnya dia dilaporkan membawa seorang mahasiswi ke Suriah dan bergabung dengan ISIS di kota Raqqa.
Aksi teror yang terjadi di Jakarta saat ini terjadi karena Bahrun ingin mencari muka di depan pemimpin ISIS Abu Bakar Al-Bagdadi. Bahrun diyakini sangat berambisi untuk menjadi kepala cabang ISIS di Asia Tenggara.
"Dia ingin membentuk Khatibah Nusantara, yang meliputi Asia Tenggara sehingga dia ingin rancang serangan di Indonesia, sehingga supaya dikatakan pemimpin," ungkap Tito.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya