Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bubur Suro, hidangan khas warga pinggiran Sungai Musi saat Ramadan

Bubur Suro, hidangan khas warga pinggiran Sungai Musi saat Ramadan Bubur Suro. ©2017 merdeka.com/irwanto

Merdeka.com - Warga pinggiran Sungai Musi, tepatnya di sekitaran Jalan Ki Gede Ing Suro, Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II, Palembang, paling menantikan hidang khas Ramadan di kampungnya, yakni bubur Suro. Selain rasanya nikmat, bubur ini memiliki sejarah yang kental dengan kearifan nenek moyang.

Bubur tersebut awalnya hanya ada di Masjid Almahmudiyah atau dikenal Masjid Suro. Oleh karena itulah, bubur ini disebut menyerupai penamaan masjid tempat dibuatnya. Kini, bubur dengan cita rasa daging itu telah menyebar di beberapa musala kampung.

Seorang pembuat bubut Suro, Hasyim (60) mengaku tidak begitu paham persis asal usulnya. Hanya saja dari cerita turun-temurun, bubur ini telah ada pada saat berdirinya Masjid Suro pada tahun 1834.

"Bubur Suro telah menjadi kebiasaan warga kami, ditunggu setiap Ramadan," ungkap Hasyim kepada merdeka.com baru-baru ini.

Pada bulan Ramadan waktu itu, warga setempat berlomba-lomba menyumbang makanan ke Masjid Suro untuk berbuka puasa. Ada menyumbang makanan yang siap santap (matang), banyak juga memberikan berbentuk bahan makanan, seperti beras, daging, bumbu-bumbuan, dan sebagainya.

"Nah, bahan-bahan itulah yang dimasak, dicampur semuanya. Jadilah bubur yang rasanya enak, beda dari bubur-bubur lain, makanya disebut bubur Suro," ujarnya.

Lama-kelamaan, bubur Suro menjadi tradisi yang masih ada hingga sekarang. Namun pembuatnya hanya dilakukan oleh pengurus masjid yang ditunjuk.

"Tidak asal-asal, sekarang dua orang uang membuatnya, bisanya juga cuma lihat-lihat saja sama pengurus sebelumnya," kata dia.

bubur suro

Antrean sambil menunggu buka puasa

Bubur Suro kini menjadi menu yang tak bisa tinggal saat berbuka puasa. Untuk memberikan kerinduan warga, pengurus masjid menyiapkan sedikitnya 200 porsi bubur Suro setiap hari.

Bubur ini dibuat sejak pukul 14.00 WIB dan dibagikan pukul 17.00 WIB, atau satu jam sebelum berbuka puasa. Pembagian bubur menjadi fenomena menarik karena semua warga, mulai anak-anak, dewasa, laki-laki, dan perempuan, harus mengantri mendapat giliran mangkoknya berisi bubur.

"Masaknya tiga jam, tiap hari ada lima kilo beras dan sekilo daging sapi yang kita masak. Semuanya dibagi-bagikan untuk warga," kata Hasyim.

Andika (12), mengaku setiap hari mengantre untuk mendapatkan bubur Suro. Dengan membawa semangkok besar, bubur itu bisa dicicipi lima anggota keluarganya.

"Sebelum antrean, main-main dulu di depan masjid sama teman-teman. Rasanya enak, beda sama bubur lain, kayak bubur sop begitu," pungkasnya. (mdk/cob)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP