Brigdatar Adam bangga menjadi akpol dan tidak pernah mengeluh
Merdeka.com - Handri (53) tiba di rumah duka Brigadir Dua Taruna (Brigdatar) Akademi Kepolisian (Akpol) Mohammad Adam di Jalan Penghulu, Gang Murtado 21 RT 1 RW 1, Kebayoran Lama, Jakarta, sekitar pukul 18.00 WIB, kemarin. Dia langsung terbang dari Medan setelah mengetahui keponakannya meninggal dunia.
Handri menceritakan, Adam anak yang pintar dan tidak pernah meninggalkan ibadah. Dia juga mudah bergaul sehingga wajar jika memiliki banyak teman. Adam sudah memiliki cita-cita sebagai polisi.
"Almarhum sangat bangga dengan tempat pendidikan itu. Sehingga dia tidak pernah mengadu," kata Handri.di rumah duka, Jakarta, Jumat (19/5).
Adam tidak pernah sekalipun mengeluhkan kondisinya di akademi kepolisian. Sebelum meninggal, Adam sempat menghubungi ibunya. Pihak keluarga tidak ada firasat apapun sebelum kepergian Adam.
"Jangankan firasat, selama ini saja dia enggak pernah ngeluh bahwa dia ada hukuman atau pernah cerita. Jadi untuk firasat enggak ada sama sekali," kata Handri.
Dalam kasus meninggal Adam diduga karena penganiayaan 12 seniornya saat pendidikan, Handri berharap proses hukum terus berjalan.
"Kami keluarga berharap, mengharapkan juga kepada Kepolisian Polda Jawa Tengah untuk melakukan proses hukum kepada senior dari keponakan saya ini," kata Handri
Pihak keluarga belum mengetahui perkembangan penyelidikan atas kasus dugaan penganiayaan yang berujung kematian Adam.
"Belum, tadi malam Gubernur Akpol baru menegaskan bahwa akan ditindaklanjuti secara hukum," ucapnya. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya