Bos Freeport yakin tak ada gejolak pekerja pasca-longsor
Merdeka.com - Presiden Direktur Freeport McMoRan Copper & Gold Richard C. Adkersen mengaku langsung menemui serikat pekerja tambang Freeport Indonesia di Tembagapura, Papua, selepas insiden di Big Gossan. Dia menyatakan fokus perusahaan dan pekerja saat ini adalah evakuasi.
Ke depan, dia yakin tidak ada gejolak dari karyawan akibat peristiwa longsor yang menyebabkan 28 pekerja tewas itu. Pasalnya, direksi dan serikat pekerja langsung membahas peningkatan kualitas keselamatan kerja di lokasi tambang lain.
Di Papua, Freeport mengoperasikan dua jenis tambang, yang terbuka di atas permukaan tanah dan di bawah tanah.
"Komunikasi tidak hanya dilakukan dengan keluarga korban, tapi juga dengan pemimpin serikat pekerja. Kami semua sepakat untuk bekerja sama, sehingga tercipta lingkungan kerja yang aman, meski standar kami selama ini sudah tinggi sekali menjaga keamanan karyawan," ujarnya dalam jumpa pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (22/5).
Richard menambahkan, lokasi longsornya gua itu bukan di area tambang, melainkan di pusat pelatihan pekerja Big Gossan. Gua itu selesai dikeruk pada 1998. Pekerja baru maupun senior mendapat pelatihan di sana sebelum benar-benar bekerja di tambang bawah tanah yang asli.
CEO perusahaan produsen emas dan perak besar dunia ini menilai dirinya bisa jadi salah satu korban tewas bila menghadiri pelatihan saat hari nahas, 14 Mei lalu.
"Lokasi kejadian bukan area tambang. Saya ada di sana sendiri saat meresmikan fasilitas pelatihan itu pada 1998. Sebab saya yakin tempat itu aman, maka saya tidak khawatir berada di gua tersebut. Saya tidak mengira bisa jadi seperti ini, kami semua sangat terkejut dan sedih," ungkapnya.
Kini, kantor pusat Freeport di Amerika memerintahkan PT Freeport Indonesia menghentikan seluruh aktivitas penambangan sampai waktu yang belum ditentukan. Richard memastikan tidak ada karyawan yang diizinkan bekerja sebelum hasil tim investigasi independen, yang diisi ahli dari dalam dan luar negeri, selesai menyampaikan laporan.
"Tidak ada pekerja yang diizinkan masuk area tambang sampai ada hasil kajian yang lengkap. Kami perlu tahu, mengapa di fasilitas yang aman itu bisa terjadi longsor," tegasnya.
Setiap korban tewas diberi santunan bervariasi, sebagian mencapai Rp 1 miliar. Freeport juga menanggung biaya pendidikan putra-putri korban sampai sarjana. Kompensasi lain, bila ada keluarga dari korban tewas ingin bekerja di Freeport Indonesia, perusahaan akan langsung menerima.
Saat ini, tambang emas dan perak terbesar di Tanah Air itu berhenti beroperasi. Dalam sehari, Freeport biasanya bisa menghasilkan 220.000 ton bahan mentah per hari.
(mdk/ren)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya