Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bocah hebohkan netizen di Malang ternyata anak berkebutuhan khusus

Bocah hebohkan netizen di Malang ternyata anak berkebutuhan khusus Anak keterbelakangan mental di Malang. ©facebook.com

Merdeka.com - Ramai di media sosial tetang seorang anak yang disebut-sebut meresahkan masyarakat di Kota Malang, Jawa Timur. Bocah berinisial WF atau kerap dipanggil Peeng (11) dikabarkan kerap meminta uang dengan mengancam para korbannya.

Sejumlah orang mengungkapkan pengalaman dan kekesalan saat menjadi korban Peeng melalui media sosial. Peeng kerap meminta uang secara kasar dan menyakiti korban. Beberapa tindakan di antaranya meludah, mencubit, memukul, menggigit, merusak properti hingga melempar batu.

Dinas Sosial (Dinsos) Kota Malang telah melakukan assesment terhadap WF, dalam rangka memberikan treatment atas perilakunya. Pertemuan dengan keluarga memutuskan agar bocah tersebut tetap mendapatkan pengasuhan dari orangtua.

"Orangtuanya masih sayang. Masih ingin mengasuh anaknya. Selain itu, yang bisa mengendalikan hanya ayahnya," kata Kunaryo, Kapala Seksi Rehabilitasi Tuna Sosial, Dinsos Kota Malang, Rabu (20/1).

Kata Kunaryo, Peeng dalam kategori anak berkebutuhan khusus (ABK) yang sebelumnya sudah sekolah di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Ketawanggede Kota Malang. Pihak sekolah telah mengkomunikasikan tentang persoalan yang dihadapi Peeng, yang duduk di Kelas 3.

"Langkah terbaik memang mengembalikan yang bersangkutan kepada orangtuanya. Dinsos akan terus melakukan pendampingan pada yang bersangkutan," katanya.

Langkah terdekat yang dilakukan Dinsos adalah memeriksakan yang bersangkutan ke psikolog. Hasilnya untuk mengetahui gangguan yang dialami Peeng.

"Selanjutnya akan diberikan rekomendasi rujukan yang akan ditempuh," tegasnya.

Bagi Kunaryo, Peeng bukan orang baru karena sejak April 2015 telah mendapatkan perhatian dari Dinas Sosial. Sebelumnya Peeng sempat dikirim ke Petirahan Anak di Batu, rumah anak milik Dinsos Provinsi Jawa Timur. Namun yang bersangkutan tidak kerasan sehingga kembali ke jalan.

"Kondisi terakhir, Peeng dalam pengawasan orangtuanya. Dia tinggal bersama ibu dan dua adiknya. Sementara ayahnya memang harus bekerja. Namun Peeng ini lebih dominan ke ayahnya," tegasnya.

Kunaryo berharap masyarakat bisa ikut mengawasi yang bersangkutan, tetapi tidak menggunakan cara-cara kekerasan yang justru menambah beban keluarga. Jika menemukan yang bersangkutan di jalanan bisa berhubungan dengan orangtuanya atau melaporkan ke Dinsos.

"Kita sampaikan kalau anak ini dalam kategori ABK. Kami harap tindak ada kekerasan. Peristiwa ini saja sudah membuat keluarga terkucilkan," katanya. (mdk/cob)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP