Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

BNPT duga 16 WNI hilang di Turki sudah direncanakan matang

BNPT duga 16 WNI hilang di Turki sudah direncanakan matang Ilustrasi ISIS. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bergerak cepat untuk menindaklanjuti kasus hilangnya 16 WNI di Turki yang disinyalir bergabung dengan organisasi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Saat ini, BNPT berusaha mendeteksi keberadaan mereka dengan

melalui kerjasama dengan pihak-pihak terkait.

"Kami bekerja sama dengan pihak-pihak terkait seperti KJRI di Turki dan Interpol untuk mendeteksi keberadaan 16 WNI itu. Sejauh ini kami belum bisa memastikannya," kata Juru Bicara BNPT Irfan Idris MA, Rabu (10/3).

Irfan menilai apa yang terjadi dengan 16 WNI ini tidak lepas dari strategi yang digunakan ISIS memanfaatkan cara-cara resmi untuk melancarkan aksinya. Dia meyakini 16 WNI sudah merencanakan secara matang sebelum berangkat.

"Mereka menggunakan cara resmi asal paspor dan visa bisa keluar. Nanti setelah di luar negeri, baru mereka melancarkan aksi selanjutnya dan akhirnya tidak kembali lagi ke kelompoknya," imbuh Irfan.

Menurut Irfan, ISIS memiliki dua propaganda untuk menarik dan merekrut anggotanya. Pertama untuk kesejahteraan (motif ekonomi) dan kedua adalah kehidupan akhirat yang menurut persepsi mereka, jika ke sana dan mati akan masuk surga.

"ISIS organisasi teroris yang paling kaya. Mungkin saja mereka dijanjikan diberi uang dan fasilitas lengkap. Padahal faktanya justru mereka tidak akan tenang bila sudah masuk ISIS. Mereka adalah organisasi yang menganeksasi dua negara melakukan perampokan dan

pembunuhan," tuturnya.

"Pokoknya jangan dibayangkan dapat kenikmatan. Menurut saya masuk ke sana itu berarti bunuh diri. Bayangkan mereka harus taat dengan pimpinan, ada jihad seks untuk pejuang, dan hidup di antara desing peluru," tambah Irfan.

Tim ahli BNPT, Sarlito Wirawan Sarwono mengatakan bahwa ideologi ISIS sangat berbahaya. "Mereka berbahaya karena lihai menggunakan media internet untuk melancarkan propaganda serta merekrut para anggota di seluruh dunia. Berbeda dengan cara terorisme dulu yang masuk dengan cara konvensional, kini ISIS melakukannya langsung ke individu melalui

internet," kata Sarlito.

Menurutnya, semula pasti tidak ada pikiran dari orang atau pemuda hijrah ke negara lain untuk berperang. "Itu berbahaya. Dulu terorisme itu masuk melalui organisasi seperti

DI/TII, JI (Jamaah Islamiyah), JAT (Jamaah Ansyarut Tauhid) dan segala macam. Sekarang tidak lewat itu dan bisa perorangan baik itu melalui internet dan bisa dari mulut ke mulut," imbuh Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia (UI) itu.

"Jadi mereka membentuk ideologi sendiri terlepas dari organisasi di dunia nyata. Tiba-tiba

mereka bisa membunuh orang lain. Jadi ideologi yang tanpa bentuk dan tanpa organisasi ini sangat berbahaya sekali dan harus diwaspadai di negara Indonesia ini," tandasnya.

(mdk/did)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP