BNPT: 7,7 Persen rakyat Indonesia simpati pada gerakan terorisme
Merdeka.com - Sepanjang Mei 2018, sederet serangan teroris terjadi. Misalnya Surabaya, Sidoarjo, dan Pekanbaru. Aksi teror dipicu kerusuhan narapidana teroris di Rutan Salemba cabang Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok pada 8 Mei lalu.
Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Brigjen Pol Hamli menyampaikan ada sekitar 7,7 persen atau 11 juta warga Indonesia yang bersimpati pada gerakan teroris. Ini berdasarkan hasil penelitian Wahid Institute.
"Potensi radikal di masyarakat Indonesia hasilnya 72 persen antiradikal dan Indonesia masih bagus dalam hal ini. Sebanyak 7,7 persen simpati, itu konversinya sekitar 11 juta. Dan 0,4 persen pernah lakukan radikalisme atau konversinya kurang lebih 500.000 (jiwa)," jelasnya dalam diskusi di The Habibie Center, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (31/5).
BNPT aktif melakukan pembinaan dan sosialisasi untuk menangkal gerakan radikalisme. Harapannya angka 72 persen bisa ditingkatkan atau minimal dapat dipertahankan.
Menurutnya, masyarakat yang tidak bereaksi atas kasus terorisme atau silent majority dapat berdampak negatif dan justru mendukung perkembangan gerakan radikal. Hal ini berbahaya sehingga sosialisasi dan pembinaan perlu ditingkatkan.
"Kita minta masyarakat mulai bersuara. Kejadian Surabaya kita bersyukur karena beberapa kelompok yang dulu termasuk silent majority mulai ngomong. Ormas tertentu mulai bergerak. Alhamdulillah mudah-mudahan 72 persen akan meningkat dan kita tak boleh terus terlena oleh itu. Dan jangan merasa Indonesia cukup kuat untuk tidak dilakukan infiltrasi dan masuknya paham-paham transnasional dan yang 72 persen tadi ini harus tetap waspada," jelasnya.
Menangkal radikalisme juga perlu peran dari orang tua, di samping penegakan hukum. Hamli bercerita tentang beberapa anak-anak muda yang dipaksa ikut gerakan radikal. Tapi karena ajaran orang tua mereka begitu melekat, mereka menolak dan tak berhasil dibujuk.
"Pentingnya orang tua hadir di hadapan anak-anak baik fisik dan non fisik untuk bekali dia," ujarnya.
Hamli juga mengingatkan civitas akademika agar turut berkontribusi mencegah masuknya paham radikalisme ke kampus-kampus. "Mulai masuk perguruan tinggi, mereka sudah mulai main (menyebarkan radikalisme) dan kawan-kawan civitas akademika, dosen enggak aware dengan situasi ini," pungkas Hamli.
(mdk/rnd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya