BMKG minta warga tak panik soal fenomena surutnya air laut
Merdeka.com - Fenomena surutnya air laut di Pantai Karangantu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang yang terjadi beberapa waktu lalu ternyata hanya pengendapan lumpur dan sudah biasa terjadi.
Warga sekitar pantai diharapkan tidak khawatir panik. Warga juga diimbau tidak begitu saja percaya dengan pelbagai isu yang muncul, termasuk soal isu Tsunami.
"Surutnya pantai Karangantu ini bukan tanda akan terjadi Tsunami. Kami mengimbau kepada warga supaya jangan panik," ujar Kepala Seksi Pusat data dan Informasi (Pusdatin) BMKG Serang, Tri Tjahyo di Serang, Banten, Jumat (7/2).
Diakuinya, fenomena surutnya air laut baru kali ini terjadi. Sehingga, pihaknya belum mengetahui lebih detail soal asal lumpur. "Soalnya belum pernah lihat surut seperti ini," katanya.
Diberitakan sebelumnya, air laut di Pantai Karangantu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten tiba-tiba surut. Bahkan air laut surut sepanjang sepanjang hampir 1 km dari bibir pantai biasanya.
Kondisi tersebut menyebabkan kepanikan yang luar biasa bagi warga Serang. Hal ini diperparah dengan banyaknya isu di jejaring sosial yang menyebutkan bakal ada tsunami besar dari fenomena tersebut.
Salah satu warga serang Rifki Suharyadi mengaku kaget mendengar informasi surutnya air di pantai Karangantu. "Ya panik, karena setau saya sebelum tsunami itu air laut surut dulu baru gelombang tsunami," kata Rifki.
Jaya (42) warga sekitar, yang rumahnya yang tak jauh dari bibir pantai mengatakan, bahwa fenomena tersebut sering terjadi. Dan itu adalah bukan surut, melainkan pendangkalan.
"Sering terjadi ini mah pak, bukan surut Pak. Ini pendangkalan dan sering terjadi. Jadi pas ombak tinggi ditambah angin kencang, ombak itu bawa lumpur ke pantai, namun lumpurnya tidak kembali ke laut. Hanya airnya saja," kata Jaya.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya