BKSDA sebut pengelola Bonbin Bandung tak terbuka soal dokter hewan
Merdeka.com - Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jabar Sylvana Ratina pernah mengingatkan pengelola Kebun Binatang Bandung untuk memiliki dokter hewan tetap. Pesan itu disampaikan BBKSDA Februari 2016 lalu pada momen pembinaan teknis di Kebun Binatang Bandung. Yani, gajah yang mati Rabu (11/5) kemarin, masih dalam kondisi sehat kala itu.
"Padahal Februari 2016 pembinaan teknis. Kami sudah lihat memang tidak ada dokter hewan. Padahal dalam aturan yang tertuang pada peraturan Menhut Nomor 31/2012 pasal 30 setiap LK harus menyediakan dokter hewan," ungkap Sylvana di Kebun Binatang Bandung, Kamis (12/5).
Sampai pada akhirnya Yani mati, Yayasan Margasatwa Tamansari yang selama ini dipercaya mengelola Kebun Binatang Bandung pun tidak memiliki dokter tetap.
"Tapi enggak ada sampai sekarang. Katanya sulit merekrut. Yang dulu resign.
Harusnya melapor ke balai selaku pembina LK. Itu kami sesalkan tidak adanya keterbukaan pengelola," ucapnya penuh kesal.
Ketua Yayasan Marga Satwa Tamansari Bandung Dadang Danu Miharja menyebut, dokter tetap yang dimiliki sudah mengundurkan diri setahun lalu. Sehingga selama ini pihaknya hanya mengandalkan dokter panggilan. Artinya tidak ada perawatan berkala.
"Dokter ada mengundurkan diri. Tidak tahu (alasannya). Tidak betah. Kalau (Yani) sebetulnya sedang ditangani dokter freelance. Kami juga tetap usaha," ungkapnya.
Dia mengaku kesulitan mendapatkan dokter tetap tanpa penyebut alasannya.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya