Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bibit Waluyo semprot pejabat Magelang

Bibit Waluyo semprot pejabat Magelang Bibit Waluyo . Merdeka.com

Merdeka.com - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Bibit Waluyo dihadapan Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Kabupaten Magelang marah-marah dalam pidatonya. Kemarahan Bibit karena maraknya penambangan pasir yang dilakukan secara ilegal di beberapa sungai Gunung Merapi.

Kemarahan Bibit ini terjadi saat acara silaturahmi Gubernur Jateng dengan SKPD, Camat, Lurah Kades se-Kabupaten Magelang, Jateng Selasa (3/7) di Gedung Pertemuan Kompleks Kantor DPRD Mungkid, Jalan Letnan Tukiyat, Kabupaten Magelang, Jateng. Salah satu yang hadir dalam acara itu adalah Bupati Magelang Singgih Sanyoto.

Di depan peserta Muspida, Bibit menyesalkan penambangan liar masih marak terjadi di bantaran sungai lereng Merapi. Terutama penambangan secara serampangan mengakibatkan rusaknya talud-talud pelindung dari bahaya bencana banjir lahar dingin Merapi.

Bahayanya, jika talud rusak banjir lahar dingin datang akan mengancam penduduk di sekitar bantaran Kali Putih dan Kali Pabelan. Untuk itu, Bibit secara tegas meminta radius 200 meter di kanan kiri talud sungai harus bebas penambangan liar.

"Dulu sudah tak kasih tahu ojo kok rusak alam kui (jangan dirusak). Alas dibabati (hutan ditebangi). Lha kui lurahe neng ndi (lurahnya ke mana)? Pak bupatine koyok ngopo (Pak Bupatinya seperti apa)? Kapolrese koyok ngopo (Kapolres seperti apa)? Jembatan sing nggawe sopo (jembatan yang buat siapa)? Jangan diambil pasirnya hulu hilir. Paling tidak 200 meter. Kemarin saya ada di jembatan Pabelan dari Jakarta saya berhenti di situ. Ya Allah jembatane," kata Bibit bernada tinggi di atas podium pertemuan itu disambut sorakan ratusan peserta.

Bibit mengajak seluruh warga di lereng Merapi khususnya di bantaran Kali Pabelan dan Kali Putih untuk bersatu melawan penambangan liar. Juga memelihara lingkungan di sekitar Merapi yang telah rusak. Sebab jika penambangan liar ini dibiarkan begitu saja maka kondisi lingkungan, terutama mata air di sekitar Magelang akan menyusut dan terancam habis.

"Ayo kita bersatu dengan alam biar sejahtera. Ada perempuan nakal di situ juga. Rumangsamu aku nggak tahu (dikira saya tidak tahu)? Saya sering naik ke sana. Puluhan kali. Akhirnya meletus. Lima menit sebelum meletus saya di situ. Sopirnya nangis. Menyatu dengan alam penting. Ojo mbok rusak alam (jangan dirusak alam). Nanti kalau marak habis sumber mata air Magelang," ujar dia.

Bibit menjelaskan, kemarahannya itu dalam rangka untuk saling mengingatkan. Sebab, Merapi yang dikenal sebagai memiliki kekuatan alam saat bencana bisa menjadi kawan sekaligus menjadi ancaman. Untuk itu, Bibit meminta seluruh pejabat mulai dari Bupati, Kapolres dan perangkat desa benar-benar memelihara alam sekitar Merapi. (mdk/has)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP