Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bertualang demi melucuti senpi Suku Anak Dalam dan Talang Mamak

Bertualang demi melucuti senpi Suku Anak Dalam dan Talang Mamak Pemusnahan senjata rakitan. ©2016 merdeka.com/abdullah sani

Merdeka.com - Bukan perkara mudah menarik 73 pucuk senjata api laras panjang rakitan dari Suku Anak Dalam dan Talang Mamak, di Kecamatan Batang Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Sebab, polisi butuh pendekatan emosional dan rayuan serta strategi supaya mereka mau menyerahkan senjata api itu.

Apalagi suku pedalaman tidak mengerti Bahasa Indonesia. Kapolsek Batang Cenaku, Iptu Arsyad, sempat tidak makan di dalam hutan. Dia mesti mengendap di hutan dan tidak pulang selama tiga hari. Itu menjadi tantangan tersendiri baginya demi melakukan pendekatan dengan suku Anak Dalam dan Talang Mamak. Mereka merakit sendiri senpi biasa disebut Gobok itu, buat berburu hewan demi kelangsungan hidup mereka.

"Jadi, alat mereka (senpi rakitan) itu yang kita minta. Itu tidak mudah, butuh kerja keras dan pendekatan agar mereka tidak marah dan sukarela memberikannya," kata Arsyad saat berbincang dengan merdeka.com, Minggu (14/8).

Saat masuk hutan buat berjumpa dengan suku anak dalam, Arsyad membawa bekal makanan secukupnya. Awalnya berniat bisa pulang cepat jika stok makanan habis. Namun, Arsyad malah kehilangan arah saat makanannya habis.

"Saya sempat 3 hari di dalam hutan, enggak pulang. Makanan yang saya bawa habis, jadi saya makan saja apa yang ada di hutan. Pernah juga tidak makan seharian," kata Arsyad sambil meneteskan air matanya.

Sekian lama berusaha, akhirnya Arsyad mengetahui keinginan Suku Anak Dalam. Arsyad melihat para suku anak dalam tidak mau begitu saja menyerahkan senjata andalan mereka buat berburu di hutan. Mereka rupanya ingin barter.

"Saya pun menawarkan beberapa barang yang tidak berbentuk sembako seperti mie dan beras, tapi mereka tetap tidak mau. Lalu mereka melihat gunting yang saya bawa dan menginginkannya, lalu saya berikan asalkan mereka mau memberikan senjata api mereka," imbuh Arsyad.

Akhirnya, Arsyad menukarkan gunting dibawanya dengan sepucuk senjata api. Dia kembali berpikir supaya semua senjata api milik Suku Anak Dalam diserahkan. Kemudian Arsyad menawarkan cermin dibawanya.

"Mereka (Suku Anak Dalam) kaget dan tertarik melihat kaca cermin. Lalu minta kepada saya, dan kembali saya minta juga senjata api mereka, tapi 1 kaca cermin ditukar dengan 3 senjata api, mereka sepakat. Selain itu, kami juga menukarkan tembakau yang wanginya disukai mereka serta baterai penerang," ucap Arsyad.

iptu arsyad

Tak kehabisan akal, Arsyad pun berjanji kepada suku anak dalam untuk memberikan tembakau lebih banyak, agar mereka menyerahkan lebih banyak senjata api. Sebagian suku anak dalam mau melakukannya, sisanya enggan.

"Hingga akhirnya terkumpul sebanyak 73 senpi rakitan mereka. Ada yang kami jemput dengan menukarkannya dengan benda yang mereka sukai, ada juga yang mereka antar setelah kita beritahu. Kita punya aturan hukum atas kepemilikan senjata api itu," tambah Arsyad.

Sebagai imbalan, lanjut Arsyad, Kapolda Riau Brigjen Supriyanto memberikan satu ekor kerbau kepada Suku Anak Dalam buat dibagi-bagi, karena mau memberikan senpi mereka.

Arsyad menargetkan, dalam sebulan ini akan mengumpulkan 200 pucuk senpi rakitan dari Suku Anak Dalam. Tentunya, dengan konsekuensi agar mereka sukarela.

"Kami berjanji, akan lebih perhatian kepada Suku Anak Dalam. Kami minta dukungan dari pemerintah dan pimpinan Polri untuk melakukan ini," tutup Arsyad. (mdk/ary)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP