Bersyukur dan Sabar, Kunci Porter Stasiun Gambir Melayani Penumpang
Merdeka.com - Sudah 30 tahun Tarno mengangkut barang penumpang di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Menawarkan bantuan tenaga kepada tiap penumpang. Umurnya tidak muda, namun tenaganya tidak pernah habis.
Memilih profesi porter terpaksa harus dilakoni. Sudah sering keluh kesah dari para penumpang didengarnya. Semua dihadapinya dengan lapang dada. Tarno tidak mengeluh sama sekali.
Mulai dari penumpang cerewet, hingga ramah. Semua sudah dirasakan. Bekerja kurang lebih 12 jam dalam sehari, Tarno selalu bersyukur. Padahal pendapatannya tidak menentu tiap harinya.
Setiap ada penumpang turun dari mobil dia langsung sigap untuk membantu dan menawarkan. Asal bisa membantu dan mendapatkan uang untuk kehidupan, dia jalani dengan suka cita. Sapa dan senyum selalu diutamakan kepada para penumpang yang membawa banyak barang.
"Sukanya kalau ketemu penumpang yang enak, kalau enggak sukanya ya namanya melayani. Kadang melayani orang cerewet. Sifatnya sama, ya disyukuri saja," cerita Tarno kepada merdeka.com di Stasiun Gambir, Jumat (7/6).
Laki-laki asal Purwokerto sengaja tidak mudik selama masih berlangsung cuti bersama Lebaran. Semua demi mendapatkan penghasilan lebih di momen seperti hari raya besar.
Tarni Porter Stasiun Gambir ©2019 Merdeka.com
Usahanya tidak sia-sia. Hasil didapat cukup berlimpah dibanding hari biasa. Semua rezeki itu dia kumpulkan untuk keluarga di kampung halaman.
"Enggak bisa ditentuin berapa yang didapat. Yang jelas lebih banyak saat ini. Enggak bisa ditarget. Tapi Insha Allah dapat untuk keluarga," kata Tarno.
Tarno adalah tim merah. Bekerja selama satu hari full dan besoknya libur. Waktu liburnya dimanfaatkan untuk istirahat setelah sibuk bekerja seharian.
Dalam perayaan Idulfitri 2019, Tarno memang punya rencana untuk mudik. "Mudik nanti, 15 hari usai lebaran. Ingin ketemu keluarga sudah rindu," ungkap Tarno sambil tersenyum.
(mdk/ang)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya