Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Berpolitik tanpa bermusuhan (2): Natsir dan Soekarno

Berpolitik tanpa bermusuhan (2): Natsir dan Soekarno Soekarno. ©2012 Merdeka.com/dok

Merdeka.com - Perbedaan pandangan Natsir dengan Soekarno sudah terjadi sejak sebelum Indonesia merdeka pada 1930. Di awal Proklamasi Natsir dan Soekarno bertemu di badan pemerintahan. Perbedaan pandangan tidak menghalangi hubungan dekat keduanya. Begitu dekatnya sehingga Natsir konon pernah menjadi pembuat pidato Soekarno.

Pada zaman Bung Karno, Mohammad Natsir mengalami pengucilan politik. Bahkan, tokoh Partai Masyumi ini sempat dipenjarakan. Partai Masyumi yang dipimpinnya pun dibubarkan tahun 1960 oleh Soekarno. Ada perbedaan pandangan yang tajam di antara mereka tentang bagaimana membawa bangsa Indonesia ke depan, terutama terkait dengan ideologi Pancasila dan Islam.

Mohammad Natsir dikenal aktif dalam Petisi 50 yang menentang Orde Baru. Rekannya di Petisi 50 Chris Siner Key Timu memberi kesaksian betapa dalam setiap rapat Natsir tak pernah menyinggung-nyinggung Bung Karno apalagi menjelek-jelekkan.

"Tidak pernah dia mengeluarkan kata-kata yang buruk soal Bung Karno. Dari situ saja sangat terlihat sifat kenegarawanannya itu," tulis Key Timu dalam buku 100 Tahun Mohammad Natsir.

Setelah tragedi berdarah tahun 1965 pecah, Natsir juga tidak pernah berpikir menggunakan kesempatan yang ada untuk meraih kekuasaan atau demi kepentingan pribadi.

Begitulah Natsir. Dia dikenang sebagai politisi yang santun. Perbedaan pendapat dengan lawan politik, tidak melanggengkan sikap saling dendam. Natsir tetap menganggap lawan politiknya sebagai teman.

(mdk/tts)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP