Berkah mudik warga Gilimanuk, dari pedagang hingga jadi pemulung
Merdeka.com - Setiap tahunnya arus mudik dan arus balik lebaran memang selalu ditunggu-tunggu oleh warga Gilimanuk, Jembrana. Mengingat momen satu tahunan ini mereka manfaatkan untuk mengais rejeki dengan berbagai kegiatan.
Banyaknya pemudik yang melintas dimanfaatkan mereka untuk berjualan, jasa ojek, menjadi pemulung, jasa WC umum termasuk jasa pijat. Bahkan sejumlah lapak dan meja berjualan merata berjajar di tepi jalan menuju pelabuhan.
Seperti dalam pelaksanaan arus mudik tahun ini, sebulan sebelum lebaran warga Gilimanuk sudah mulai memetakan lahan kosong di sepanjang jalur mudik di wilayah Gilimanuk, mulai dari depan jembatan timbang hingga mendekati pelabuhan untuk dibangun lapak berjualan sederhana.
Bukan hanya itu, jalan kecil yang dijadikan jalur arternatif mengurangi kemacetan juga dipenuhi lapak warga untuk berjualan. Mereka sebagian besar berjualan makanan dan minuman termasuk kopi. Bahkan ada pula yang berjualan bensin eceran.
"Sebenarnya pekerjaan saya bukan pedagang. Sehari-hari saya sebagai buruh serabutan. Tapi jika ada arus mudik lebaran saya selalu berjualan," ujar Kartini, seorang warga Gilimanuk, Senin (4/7).
Dia mengaku, sudah sekitar 7 kali lebaran berjualan dengan memanfaatkan kemacetan arus mudik yang pasti terjadi setiap tahunnya.
"Kalau modal jualan saya pinjam dulu di toko. Nanti kalau sudah laku terjual baru kami setor," imbuhnya yang mengaku bisa mengantongi keuntungan bersih per harinya antara Rp 350 ribu sampai Rp 500 ribu.
Sementara warga lainnya yang tidak kebagian tempat berjualan atau yang rumahnya jauh dari jalan lintasan arus mudik, memanfaatkan momen arus mudik tersebut sebagai pemulung. Rata-rata seorang pemulung penghasilan bersihnya per hari mencapai Rp 75 ribu.
"Kalau sudah mulai arus mudik lebaran saya lebih suka memulung karena tidak mengeluarkan modal, hanya perlu ketekunan,” ujar Rudianto, pemulung asal Gilimanuk barang rongsokan botol pelastik.
Menurutnya, jika ada antrean arus mudik yang panjang dia bisa mengumpulkan banyak rejeki dengan memanfaatkan plastik pembungkus makanan atau motol plastik air mindral yang dibuang oleh pemudik.
Sementara banyak pula warga Gilimanuk yang memanfaatkan momen arus mudik tersebut dengan mengemis. Bahkan pengemis dari daerah lain juga banyak berkeliaran di wilayah Gilimanuk.
Di sisi lain tukang ojek juga menjamur pada saat arus mudik ini. Jasa mereka sering dipakai oleh pemudik yang menumpang angkutan umum. Dari pada berlama-lama mengantre pemudik yang menumpang angkutan ini rela mengeluarkan kocek lebih untuk bayar ojek agar cepat sampai di pelabuhan Gilimanuk.
(mdk/hrs)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya