Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Berburu buku lawas di Kampung Buku Yogyakarta

Berburu buku lawas di Kampung Buku Yogyakarta Bazar Buku Lawasan di Kampung Buku. ©2017 merdeka.com/purnomo edi

Merdeka.com - Mencari buku-buku lawasan atau terbitan lama menjadi keasyikan tersendiri bagi penggemar buku. Berburu buku-buku lawasan dengan mendatangi lapak-lapak penjual buku menjadi rutinitas tersendiri bagi penggemar buku.

Salah satu di antara penggemar buku lawasan adalah Azka Maula yang kerap berburu komik lawas. Salah satu komik lawas yang kerap dicari oleh Azka adalah komik petualang seorang jurnalis bernama Tintin.

Untuk mencari komik lawas, Azka kerap mendatangi bazar atau pameran buku yang digelar di Yogyakarta. Salah satunya adalah berburu buku di acara Kampung Buku yang diselenggarakan di kawasan Food Court UGM. Kampung Buku dimulai sejak Rabu (6/10) lalu hingga Minggu (8/10) mendatang.

"Ini saya dapat dua komik Tintin terbitan Indira. Komik ini cetakan pertama yaitu tahun 1976. Kebetulan pas hunting di lapak buku lawasan di Kampung Buku nemu dua komik ini. Satu berjudul Harta Karun Rackham Merah dan Petualang ke Bulan," ujar Azka, Jumat (6/10).

bazar buku lawasan di kampung buku

Azka mengaku di acara Kampung Buku ini dimudahkan dalam mencari buku-buku lawas. Sebab, ada stand khusus buku lawasan yang disediakan oleh panitia.

"Kalau di pameran lainnya, harus mencari satu-satu dari setiap stand. Kalau di Kampung Buku sudah dikumpulkan jadi satu penjual buku-buku lawasannya. Jadi lebih mudah mencarinya," ungkap Azka.

Terpisah, penjual buku lawasan, Rico Pambudi menyampaikan memang gampang-gampang susah untuk mencari buku-buku langka utamanya buku-buku cetakan pertama. Buku-buku lawas yang dijualnya pun didapat dari hasil pencariannya.

"Kadang dari mulut ke mulut. Kadang dapat dari perpustakaan yang sudah tutup. Atau juga dapat dari kolektor buku," terang Rico.

Rico menyampaikan di stand jualannya tersedia hampir 2.000 buku lawasan dari berbagai genre. Seperti biografi, sosial, sastra, politik, filsafat maupun sejarah.

"Saya jual buku lawasan dari harga Rp 20 ribu hingga Rp 1,5 juta. Buku paling mahal adalah buku karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Nyanyi Sunyi Seorang Bisu yang merupakan cetakan pertama. Buku ini sudah tak lagi dicetak sebagaimana buku-buku Pram yang lainnya. Selain itu ada buku terbitan Belanda bikinan abad 19. Buku itu berisi tentang Hindia Belanda," ujar Rico.

Rico menambahkan, dalam pencarian buku yang diutamakan adalah kondisi buku masih baik dan kelangkaannya. Semakin langka, lanjut Rico semakin mahal pula harganya.

"Tingkat kelangkaan jadi yang utama. Tidak setiap penjual buku punya buku lawasan apalagi buku langka. Jadi kita bisa menjual dengan harga lebih tinggi dibandingkan buku lainnya," kata Rico.

Rico menjabarkan selama tiga hari membuka lapak di Kampung Buku sudah ratusan buku yang terjual. Buku-buku yang banyak dibeli bergenre sosial, filsafat dan sejarah.

"Pembeli banyak mencari buku-buku lawasan bertema sosial, filsafat, sejarah dan biografi. Selain tema biasanya yang dicari berdasarkan cetakannya. Cetakan pertama biasanya paling banyak dicari," pungkas Rico.

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP