Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bentrok di Desa Tamilouw yang Tak Perlu Terjadi

Bentrok di Desa Tamilouw yang Tak Perlu Terjadi 18 Warga Tamilou Maluku Tengah Tertembak Peluru Polisi. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Bentrok antar polisi dan warga terjadi di Desa Tamilouw, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, Selasa (7/12) pagi. 18 Warga terluka akibat tembakan polisi. Tiga di antaranya menjalani perawatan intensif di RSUD Masohi, Maluku Tengah.

Polda Maluku menyatakan insiden berdarah itu bermula saat hendak dilakukan penangkapan 11 orang. Mereka adalah terduga pelaku keributan berujung pembakaran kantor Desa Tamilouw, hingga menyebabkan seorang warga meninggal, beberapa waktu lalu.

Lebih kurang 200 personel gabungan polisi hingga kendaraan taktis dikerahkan. Ratusan personel itu terdiri dari Satuan Brimob, Shabara, beberapa anggota Polres dan Polsek.

Sebenarnya, polisi mengaku sudah melakukan pendekatan terhadap tokoh masyarakat Tamilouw agar terduga pelaku menyerahkan diri. Namun pelaku tak kooperatif setelah berulang kali dipanggil hingga akhirnya dilakukan penangkapan.

Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol M. Roem Ohoirat menjelaskan pengerahan ratusan personel dan kendaraan anti huru hara. Dalihnya, polisi sebelumnya mendapat ancaman warga.

"Karena memang masyarakat setempat sebelumnya sudah mengancam, 'bahwa jangan coba-coba polisi masuk ke desa mereka'," kata Roem.

Lima terduga pelaku akhirnya ditangkap. Tiba-tiba, sejumlah masyarakat membunyikan tanda dengan mengetuk tiang listrik. Kemudian warga desa mengadang petugas.

Menurutnya, warga menyerang polisi dengan batu dan berupaya merebut senjata polisi. Aparat kemudian membubarkan massa menggunakan gas air mata dan peluru karet ke arah udara. Bentrok itu mengakibatkan sejumlah warga terkena letusan senjata aparat. Polisi menduga warga yang terluka akibat terserempet peluru karet dan pecahan gas air mata.

"Terjadilah penyerangan dengan batu, terjadi pelemparan bahkan ada upaya untuk merebut senjata daripada aparat kepolisian," kata Roem.

Roem menyebut korban bentrok tak hanya menimpa warga sipil. Tujuh anggota dan empat kendaraan polisi dikerahkan menangkap terduga pelaku keributan rusak diamuk warga.

Sementara itu, Tokoh masyarakat Tamilouw, Habiba Pelu mengatakan, insiden penembakan warga ini bermula dari beberapa ibu yang hendak membuang sampah dan berpapasan dengan aparat Polres Maluku Tengah. Kehadiran polisi ini menuju Dusun Ampera dan Tamilou selaku desa induk hendak menangkap pemicu keributan warga Tamilou dengan warga Dusun Rohua.

Polisi Kedepankan Persuasif

Peneliti institute for security and strategic studies (ISESS), Bambang Rukminto, menyayangkan bentrok polisi dan warga. Harusnya, kata dia, peristiwa itu tidak sampai terjadi. Sebab faktor keselamatan warga harus diutamakan aparat ketika melakukan pengamanan atau penangkapan pelaku pelanggaran pidana. Bambang menekankan agar aparat mengedepankan langkah persuasif sebelum mengambil tindakan.

"Ketika memang situasinya tidak kondusif memang seharusnya polisi menahan diri agar tidak memunculkan korban yang lebih besar," kata Bambang saat dihubungi merdeka.com, Rabu (8/12).

Bambang menambahkan, aparat bisa mengambil tindakan tegas dan terukur seperti penembakan apabila diserang dan membahayakan personel. Namun tindakan tegas itu dilakukan dalam upaya melumpuhkan bukan mematikan.

Bambang menilai Intelijen Keamanan (Intelkam) Polri seharusnya melakukan mitigasi terkait potensi konflik sosial yang timbul sebelum melakukan penggerebekan. Dia mendesak Propam Polda Maluku mengusut tuntas tindakan refresif polisi terhadap warga Tamilouw tersebut.

"Persuasif dan keselamatan warga tetap nomor 1. Tetapi bila diserang dan membahayakan personel, tindakan beladiri tetap diperkenankan. Makanya ini harus diusut tuntas, secara transparan," kata Bambang.

Janji Tindak Anggota Melanggar SOP

Propam Polda Maluku sudah mendatangi lokasi untuk menyelidiki peristiwa tersebut. Penyelidikan sekaligus untuk mencari tahu apakah peluru yang dimuntahkan polisi memang langsung di arahkan ke warga atau tidak.

Roem juga belum bisa memastikan berapa banyak anggota kepolisian yang diperiksa. Sebab tim Propam baru bergerak ke lokasi.

Dia mengatakan, pimpinan Polda Maluku sudah menginstruksikan agar mengusut kasus polisi tembak warga hingga tuntas. Roem memastikan tidak segan-segan menindak tegas personel yang melanggar prosedur atau SOP dalam insiden tersebut.

"Kita berharap dari hasil penyelidikan itu kita bisa mengetahui fakta-fakta bahwa tembakan ini mengarah langsung, ke atas atau ke tanah. Setelah hasil penyelidikan baru dijelaskan," tegas Roem.

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP