Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Benarkah Indonesia kini jadi surga para paedofil?

Benarkah Indonesia kini jadi surga para paedofil? Ilustrasi Pelecehan Seksual Anak. ©2015 Merdeka.com/Angeline Agustine

Merdeka.com - Seperti surga segala dunia, di Indonesia terbilang apapun ada. Dari keanekaragaman budaya, adat, santapan bahkan hingga pelaku kejahatan seksual terhadap anak pun seolah membooming di Indonesia.

Ya, Indonesia ternyata menjadi 'surga' pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Terhitung sejak 2012 hingga 2014, Indonesia merupakan negara pertama di dunia yang daerah wisatanya sering dikunjungi pelaku kejahatan seksual terhadap anak.

"Riset selama tiga tahun terakhir dari 2012-2014 itu Indonesia secara keseluruhan menjadi paling utama atas untuk daerah tujuan wisata pelaku kejahatan seksual. Khususnya untuk kejahatan seksual anak," kata Country Manager Indonesia Terre Des Hommes, Sudaryanto saat dihubungi, Jumat (9/10).

Sudaryanto menjelaskan, dari beberapa lokasi wisata di Indonesia, lokasi Batam, Bali dan Lombok lah yang terbilang paling banyak pelaku kejahatan seksual seperti paedofil (kejahatan terhadap anak di bawah umur).

"Khusus pelaku paedofilia, Bali masih jadi sasaran utama. Sasaran paedofil ini terutama pada daerah wilayah yang latar belakang perekonomiannya rendah, seperti di Karang Asam. Karena mereka gampang diimingi oleh para paedoil yang mayoritas berasal dari Belanda, Italia dan Australia," paparnya.

Kenapa Bali jadi sasaran utama?

Dirinya juga menjelaskan bahwa Bali memang sudah terkenal luas sebagai tujuan wisata favorit banyak orang. Itulah yang menyebabkan banyak sekali para pelaku melakukan aksinya di sana. Sebab, semakin banyaknya orang asing di Bali, maka keberadaan mereka dianggap biasa saja, tak mencolok.

"Jadi mereka (paedofil) tidak terlihat. Mereka relatif diterima di daerah Bali. Sehingga mereka bisa menyatu dengan masyarakat sekitar," ucapnya.

Sudaryanto mencontohkan kasus paedofil yang ada di Bali, dengan para korban yang justru membela pelaku. Kasus ini lah yang melihatkan bahwa sebegitu besarnya Bali untuk wisata asing, sehingga mereka sama sekali tak mencolok saat di Bali.

"Misalnya kaya kasus tersangka di Karang Asem waktu itu, yang kalau tidak salah pelakunya dari Belanda.Masyarakat di Bali menganggap mereka melakukan aktifitas sosial di sana. Padahal mereka melakukan itu (paedofil) tapi masyarakat tidak sadar. Masyarakat tahunya mereka melakukan kegiatan sosial. Jadi waktu dibawa ke peradilan, mereka menolong orang ini. Karena mereka menganggap dia menolong perekonomian," paparnya. (mdk/cob)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP