Belum 'afdol' sebagai santri kalau belum kudisan
Merdeka.com - Menjadi santri sama halnya dengan hidup bermasyarakat. Sebab, metode pendidikan dilakukan dengan cara mengkarantina kemajemukan berbagai orang dalam sebuah lembaga pendidikan tradisional. Maka dari itu setiap saat merupakan momentum berinteraksi dengan sesama.
Justru dengan kultur pesantren semacam itu, kebanyakan fasilitas yang disediakan akan dipakai secara berjamaah. Dari sana penyakit bermula dan mewabah.
Bahkan di salah satu pesantren terbesar di Jawa Timur, Pondok Pesantren Lirboyo menganggap bahwa belum sah status santri seseorang jika belum tertular kudis.
"Penyakit tradisional yang mendera para santri biasanya panu, gudiken (kudis), kurap, kutu air dan juga tumoen (banyak kutu yang hinggap di kulit kepala). Itulah penyakit yang secara tradisional fundamental diidap para santri. Saking seringnya penyakit itu mendera para santri sehingga ada guyonan di kalangan santri bahwa belum sah menjadi santri jika belum gudiken atau kudisan," kata mantan santri yang belasan tahun menempa diri di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Slamet Abdul Qohar saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (23/10).
Alumnus jenjang S2 Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM) menjelaskan bahwa penyebab kedatangan berbagai penyakit tersebut beragam. Hal tersebut lantaran kultur masing-masing pribadi di pondok yang gemar saling berbagi.
"Begini lho, hidup di pondok pesantren itu kan ikatan sosialnya tinggi dan kental. Ikatan sesama santri sedemikian kental sehingga kita sudah menganggapnya seperti saudara kita. Gayung yang multifungsi, selain sebagai alat untuk mandi, juga alat untuk tempat sayur. Buat mi rebus juga pake gayung. Bahkan satu bantal kadang digunakan bersama. Inilah salah satu penyebab yang diduga menjadi penyebaran penyakit antar santri," tuturnya.
Maka tak heran jika ditemui sekelompok santri makan bersama dalam satu wadah yang besar. Di sisi lain di momen itu juga rasa kebersamaan terbangun antarsantri.
"Juga yang nggak kalah penting menjadi sarana penyebaran penyakit adalah air. Jika jumlah santri sampai 10 ribu seperti di Libroyo, Kediri, misalnya, sedangkan tempat wudhu’nya kurang lebih dari 10 tempat wudhu dan dibersihkan seminggu sekali dengan sistem roan (gotong royong secara bergilir), suatu keniscayaan kalau penyakit-penyakit itu menyebar dengan mudahnya," pungkasnya.
Sadar akan hal tersebut beberapa pondok pesantren memang memilih menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Beberapa dari pesantren tersebut mulai memikirkan sarana meminimalisir mewabahnya penyakit di kalangan santri. Seperti di Pondok Pesantren Lirboyo misalnya, disediakan sebuah klinik kesehatan khusus bagi para santri.
"Tugas para dokter, selain menyembuhkan santri yang sakit juga memberikan penyuluhan kepada santri bagaimana pola hidup yang sehat," terangnya.
(mdk/ren)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya