Belitung Optimis Menjadi UNESCO Global Geopark
Merdeka.com - UNESCO melakukan penilaian di Taman Bumi, Belitung yang diusulkan menjadi Geopark dunia selama tiga hari, mulai dari tanggal 25 hingga 28 Juni.
"Menandakan bahwa aktivitas pemberdayaan masyarakat di geopark ini sudah berjalan dengan baik," ujar Asisten Deputi Bidang Jejaring Inovasi Maritim, Latief Nurbana.
Dua tim penilai diajak berkeliling menikmati kelengkapan warisan geologi, budaya, dan keanekaragaman hayati yang terdapat di Belitung. Kedua memberi impresi yang baik. Latief mengatakan, mereka optimis Geopark Belitung bisa menjadi UNESCO Global Geopark.
"Mereka berkeyakinan bahwa Geopark Pulau Belitung ke depannya akan menjadi UNESCO Global Geopark," tambahnya.
Kendala saat ini yang dihadapi oleh Geopark Pulau Belitung, sebut Latief, wisatawan asing yang belum banyak datang. Saat ini, mereka terus berupaya menarik wisatawan luar negeri agar mau datang dan meramaikan Pulau Belitung.
"Melalui kekompakan Tim Badan Pengelola Geopark Pulau Belitung selama penilaian dan bukti-bukti yang mampu ditunjukkan dengan baik kepada asesor, maka saya berkeyakinan bahwa Geopark Pulau Belitung akan segera menjadi UNESCO Global Geopark," terang Asdep Latief.
Keyakinan Geopark Belitung dapat lolos menjadi UNESCO Global Geopark, didukung banyaknya orang yang kagum terhadap Pulau Belitung.
Salah seorang Asesor, Andreas Schuler mengaku sangat tertarik dengan karakteristik warisan geologi yang menurutnya berkelas internasional.
"Misalnya saja ujung jalur timah (granit) Semenanjung Malaya yang berumur Parmo-Trias (321-275 tahun) dan merupakan hasil magmatisme yang berhubungan dengan subduksi, dan tersingkapnya batuan metasedimen Parmo-Karbon yang berumur 250-350 juta tahun. Pulau Belitung juga memiliki keunikan sejarah pertambangan timah tua di Indonesia dan TOR Granit. Terdapat juga batu tektit (satam) yang terbentuk akibat tabrakan antara meteor dengan batuan di Bumi," ujarnya.
Tak hanya itu saja, keanekaragaman hayati juag menarik perhatian Jean Simon Pages, menurutnya, potensi keanekaragaman hayati yang ada sangat berkelas internasional dan belum tentu ada di belahan dunia lain.
"Kami berhasil melihat Tarsius yang menjadi ikon Geopark Pulau Belitung. Tarsius Belitung ini berbeda dengan tarsius lainnya karena kepalanya dapat berputar 360 derajat. Selain itu pengelolaan Geosite Bukit Peramun juga sudah berkelas internasional dengan berbasis digital," ungkapnya.
Untuk informasi, selama proses penilaian, Badan Pengelola diperbolehkan mengundang observer untuk melihat dan mengawasi proses penilaian. Dalam hal ini perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Pariwisata, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, KNIU-Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan beberapa perguruan tinggi.
Nantinya, tim penilai akan membuat membuat laporan hasil penilaian yang akan disampaikan ke Council UNESCO dan akan dibahas dalam Council Meeting pada tanggal 31 Agustus – 2 September 2019. Kegiatan itu juga bertepatan dalam penyelenggaraan simposium Asia Pacific Geopark Networks ke-6 di Rinjani UNESCO Global Geopark, Provinsi Nusa Tenggara Barat (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya