Belitung menebus dosa gerhana rezim Orba
Merdeka.com - Rabu (9/3) pagi, di Pantai Nyiur Melambai, Desa Lalang, Kota Manggar, Belitung Timur, ribuan warga berjubel menyaksikan gerhana. Suasana seketika riuh saat gerhana yang dinanti-nanti tiba pukul 07.22 WIB. Suasana gelap 2 menit 11 detik diisi gema takbir, aksi swafoto, serta tepuk tangan yang menggema di sepanjang bibir pantai.
Pengunjung bernama Arief (44), semasa kecil tinggal di Magelang, Jawa Tengah, mengaku suasana menyambut gerhana sangat berkebalikan. Dia menyitir pendekatan keliru rezim Orde Baru, pada 11 Juni 1983 dulu, yang justru melarang warga di seluruh Indonesia melihat gerhana dengan propaganda kebutaan.
"Sekarang justru orang ramai. Saya dulu dilarang keluar rumah oleh orang tua. Malah pak kades meminta tetangga menutup sumur karena bisa bahaya kalau kena gerhana," ujarnya kepada merdeka.com sambil tergelak.
Arsip berita media massa saat itu, seperti Tempo, Kompas, ataupun Suara Pembaruan, membuktikan kata-kata Arief. Di kota-kota besar, Sabang sampai Merauke, pada 11 Juni 1983, tak ada orang berkeliaran di jalanan. Warga hanya berani menyaksikan gerhana lewat siaran TVRI.
Suasana semarak ini pula yang jadi alasan Menteri Pariwisata Arief Yahya hadir di Pulau Belitung untuk menyaksikan gerhana. Di Pulau Laskar Pelangi ini, warga semarak menyaksikan gerhana. Baju-baju sablon bertuliskan 'Gerhana Matahari Total 2016' ramai dibeli. Pemerintah setempat menggelar lebih dari 10 kegiatan pariwisata alternatif, bila ada turis ingin menjajal suasana selain gerhana.
"Jangan diulang lagi seperti pemerintah dulu. Momen Gerhana terlewat begitu saja," kata Arief dalam kesempatan terpisah. Dari hitungan pemerintah, pariwisata gerhana di berbagai kota tahun ini dapat mendatangkan devisa Rp 400 miliar.
Yusrizal (45), warga asli Manggar, ingat pula larangan menyaksikan gerhana di masa OrBa. Tapi dia nekat menonton di pantai Lalang, sendirian. Saat itu dia masih remaja.
"Suasana hening saat itu," ujarnya.
Kini, ribuan orang ramai-ramai mengabadikan gerhana. Menurut Yusrizal, penerimaan yang berbeda atas fenomena alam itu didukung pemberitaan media.
Di luar itu, dia pun yakin gerhana seharusnya dinikmati, bukan ditakuti. "Ciptaan Allah pasti punya kebaikan bagi manusia," tandasnya.
(mdk/dan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya