Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Basarnas Juga Ajukan Terapi Hiperbalik di RS Polri

Basarnas Juga Ajukan Terapi Hiperbalik di RS Polri Tim Gabungan pencari korban Lion Air di pantai Karawang. ©2018 Merdeka.com/Bram Salam

Merdeka.com - Rumah Sakit Bhayangkara Polri Kramat Jati, Jakarta, menerapkan terapi oksigen hiperbalik untuk tim penyelam evakuasi pesawat Lion Air PK-LQP dengan kode penerbangan JT610. Terapi oksigen hiperbalik itu dilakukan agar tak terjadi dekompresi terhadap para penyelam.

Selain itu, fungsi dari hiperbalik itu bertujuan untuk menetralisir nitrogen-nitrogen yang ada di dalam tubuh. Dengan begitu, kadarnya bisa kembali normal. Terlebih, tim penyelam sudah melaksanakan tugasnya sejak jatuhnya pesawat pada Senin (29/10) hingga dihentikannya pencarian oleh Basarnas pada Sabtu (10/11).

Terapi hiperbalik di RS Polri ini ternyata tak ada penyelam dari Badan SAR Nasional yang melakukannya. Terapi ini mayoritas dilakukan oleh Dislambair TNI AL, Polri dan dari para relawan.

Wakil Kepala Operasi Tim DVI Polri Kombes Triawan Marsudi mengatakan, Basarnas ternyata baru mengajukan terapi hiperbalik untuk para penyelamnya. Tetapi, ia tak menjelaskan secara rinci kapan pengajuan itu dilakukan.

"Mungkin begitu melihat tim Polri dan relawan sudah semua dihiperbalik, rupanya tim Basarnas juga ada pengajuan pelaksanan dengan hiperbalik, insya Allah akan kita penuhi," kata Triawan di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (13/11).

Kendati demikian, pihaknya pun masih menunggu jawaban dari pengajuan terapi hiperbalik tersebut. "Nanti kita tunggu jawaban dari pengajuan itu tadi," ujarnya.

Sebelumnya, Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Polri Kramat Jati, Jakarta, menerapkan terapi oksigen hiperbarik untuk tim penyelam evakuasi pesawat Lion Air PK-LQP. Kepala Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Kombes Pol Musyafak menyatakan terapi tersebut bertujuan menetralisir nitrogen-nitrogen yang ada di dalam tubuh.

Dengan begitu, kadarnya bisa kembali normal. Apalagi tim penyelam sudah melaksanakan tugasnya kurang lebih enam sejak kejadian.

"Karena nitrogen kalau lebih dari nilai ambang bisa mengganggu kesehatan, menekan syaraf dan sebagainya," kata Musyafak, Minggu (4/11).

Dia menjelaskan, pelaksanaan terapi dilakukan kepada 15 orang secara bergantian setiap harinya. Sementara itu, menurut Kasubdit Patroli Ditpolair Barhakam Kombes Makhruzi, penyelam akan dibagi dalam tiga kelompok.

"Jadi lima-lima, 5 penyelam pertama mungkin waktunya kurang lebih 2,5 jam. 5 orang lagi sampai selesai 15 orang, mungkin besok kita lanjutkan dengan penyelam berikutnya," ucapnya.

(mdk/eko)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP