Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bak Gempa, Detik-detik SDN Cirimekar 02 Ambruk Saat Hujan Angin

Bak Gempa, Detik-detik SDN Cirimekar 02 Ambruk Saat Hujan Angin SDN Cirimekar 02 Cibinong. ©2020 Merdeka.com/Bagus Kusumo Sejati/Magang

Merdeka.com - Marice Siahaan, saksi sekaligus pensiunan guru di SDN Cirimekar 02 Cibinong, Bogor, Jawa Barat menceritakan suasana mencekam pada Rabu (1/1) pukul 04.30 WIB. Tepat saat gedung sekolah ambruk karena hujan deras disertai angin kencang.

"Keadaan angin kencang, hujan deras, petir, terus ada suara kaya pohon besar ambruk gitu, brukkk, kayak gempa gitu, saya kirain pohon di belakang itu ambruk, pas saya liat ke belakang pohon masih ada, eh pas saya keluar enggak tahunya ini puing-puing udah pada berantakan semuanya," tutur Marice di lokasi, Selasa (7/1).

Setelah mengetahui hal tersebut, Marice langsung memotret serta merekam video untuk dilaporkan kepada kepala sekolah.

"Terus saya nyadar, saya nonton di tv katanya kalau ada ini cepet matikan listrik, langsung saya hujan-hujanan lari. Saya matikan saklar listrik sekolahan, karena saya takut pakai tangan, saya pakai kayu matinya," tambahnya.

Marice mengaku sedikit terhibur lantaran setelah kejadian tersebut banyak pihak yang datang meninjau lokasi, mulai dari ketua RT, ketua RW, Lurah, Camat, bahkan hingga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim.

"Mudah mudahan secepatnya dibangun dan selesai, cara mau dibangunnya seperti apa, kita nunggu aja gimana yang terbaik, apalagi Pak menteri udah dateng kan," pungkasnya.

Siswa Belajar di Tenda Darurat

di tenda darurat rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Kegiatan Belajar Mengajar belum efektif lantaran keterbatasan ruang dalam tenda untuk siswa. Pantauan merdeka.com tenda berwarna biru bantuan dari Kemendikbud mampu menampung sekitar 150 siswa. Tenda diletakkan di lapangan sekolah dan menghadap mushala di timur sekolah.

Berdasarkan penuturan Een, guru kelas 5, kegiatan belajar-mengajar menggunakan sistem Pembelajaran Kelas Rangkap. Hal itu dilakukan karena dalam satu tenda tersebut terdapat tiga jenjang kelas yang berbeda yaitu, kelas 4, kelas 5, dan kelas 6.

"Awalnya kita coba kumpulkan anak di tenda muat ga dipepet-pepetin, itupun enggak ada meja cuma kursi aja, jadi yang penting anak bisa duduk enggak kehujanan," jelasnya.

Reporter Magang: Bagus Kusumo Sejati

(mdk/lia)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP