Awan Comulonimbus Tidak Muncul, Hujan Buatan di Sumsel Belum Berhasil
Merdeka.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin meluas bersamaan datangnya puncik musim kemarau di Sumatera Selatan. Program teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau hujan buatan pun belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan.
Kabid Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Ansori mengungkapkan, penyemaian garam di awan masih terus dilakukan tim dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (TMC). Hanya saja, potensi hujan masih kecil lantaran awan comulonimbus di langit daerah yang rawan karhutla belum ada.
"Penyemaian masih jalan, tapi kondisi awan masih kosong saat ini," ungkap Ansori, Kamis (27/8).
Justru, kata dia, awan tumpukan yang berpotensi hujan itu justru berada di daerah yang terbilang tidak terlalu rawan karhutla, seperti Kabupaten Musi Rawas Utara. Alhasil, TMC yang ditargetkan selama 20 hari dimulai 12 Agustus 2020 selama 20 hari belum juga membuahkan hasil.
"Yang banyak awan potensinya ada di Musi Rawas Utara," kata dia.
Daerah yang menjadi perhatian satgas darat maupun udara saat ini adalah Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir, Muara Enim, dan sejumlah daerah lain. Saat ini saja api masih berkobar di Kabupaten Banyuasin yang belum sempat dipadamkan kemarin karena terkendali medan.
"Tim masih lakukan pemadaman, mudah-mudahan bisa dikendalikan," kata dia.
Diketahui, kemarin ada sekitar 53 hektar lahan di lima desa di Ogan Ilir dan Banyuasin terbakar. Dimulai di Desa Palem Raya, Kecamatan Indralaya Utara, Ogan Ilir, yang membakar semak belukar dan bergambut dengan kedalaman 0,24 meter seluas 2 hektare hangus terbakar.
Karhutla juga terjadi di Dusun Setia Harapan, Desa Sungai Rengit, Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin. Bahkan, kebakaran di lokasi ini sudah memasuki hari ketiga dengan total lahan terbakar seluas 20,8 hektare.
Di lokasi ini gambut sedalam dua meter sehingga menyulitkan pemadaman. Terpantau masih ada satu titik api yang masih berada di situ.Di Desa Tebing Abang, Kecamatan Rantau Bayur, Banyuasin, juga terbakar seluas empat hektar. Di sini vegetasi lahan semak belukar dan bekas tebangan pohon diduga dilakukan untuk membuka lahan.
Sementara di Desa Sungai Rengit kembali terjadi karhutla dengan luas sekitar 18 hektare. Belum diketahui penyebab munculnya api yang berwda di semak belukar itu.
Di kabupaten yang sama, tepatnya di Desa Rambutan terjadi kahutla seluas 8 hektare dan berhasil dipadamkan baru sekitar 1,5 hektare. Di sini gambut sedalam 30 centimeter dan api belum sepenuhnya dipadamkan.
(mdk/ray)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya