Awal tahun DBD menyerang, dua warga Solo meninggal
Merdeka.com - Dua warga Solo meninggal dunia akibat wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam pekan pertama Januari ini. Kedua warga tersebut berasal dari Kelurahan Kadipiro.
Salah satu warga Kampung Clolo RT 01 RW 19 Kadipiro, Budi Santosa mengatakan DBD mulai mewabah di kampungnya sejak beberapa pekan terakhir. Menurut dia ada belasan warga diketahui terserang penyakit akibat gigitan nyamuk aedes aegypti itu. Tak hanya anak-anak, DPD juga menyerang orang dewasa.
"Keponakan saya umur 3 tahun meninggal dunia setelah menjalani rawat inap di rumah sakit. Kami telah minta DKK melakukan fogging agar DBD tidak mewabah," ujar Budi, Kamis (8/1).
Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Efi S. Pertiwi mengakui kasus DBD pada Januari ini banyak dilaporkan di wilayah Kadiporo dan Mojosongo.
"Kami langsung melakukan fogging di wilayah Clolo, Kadipiro hari ini," ujar Efi kepada wartawan.
Namun terkait adanya korban meninggal pihaknya belum bisa memastikannya, lantaran belum ada laporan resmi. Ia memang mengaku mendengar kabar tersebut satu korban merupakan anak-anak dan satu orang dewasa.
"Saya belum menerima informasi secara resmi dari puskesmas. Laporan itu kan satu pekan sekali," katanya.
Untuk kasus di Clolo, Efi mengatakan telah melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) di lingkungan tersebut. Dari hasil PE, di Clolo memang diperlukan fogging. DKK langsung melakukan fogging dalam radius 200 meter.
Efi juga mengatakan Kadipiro masuk daerah endemis DBD. "Kadipiro merupakan penyumbang kasus DBD tertinggi di wilayah Kota Solo," ucapnya.
Untuk mencegah muncul dan berkembangnya wabah penyakit itu, Efi meminta masyarakat harus selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), salah satunya menguras bak mandi. Seluruh permukiman penduduk, termasuk tempat indekos disasar dan dipantau jentik nyamuknya.
(mdk/mtf)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya